
Self publishing activist, writer, and editor. Pemilik akun twitter @bysph. hasil karyanya http://nulisbuku.com/books/view/transformasi-lorentz http://nulisbuku.com/books/view/teknologi-dan-pilihan-hidup
Dibaca: 989
Komentar: 7
Nihil
93% PEMIRSA TELEVISI INDONESIA NONTON RCTI
Itulah sebuah judul besar dari salah satu iklan di harian kompas hari ini, minggu 2 januari 2011 (yang tentu saja dengan sebuah catatan kaki yang sangat kecil dibagian bawah iklan). Iklan RCTI itu sendiri juga cukup besar dan mentereng yang kira-kira mencakup sepertiga halaman di bagian dalam koran kompas itu. Sebagai sebuah iklan ini boleh dibilang suatu cara yang cukup cerdas dan menemukan momen yang pas.
Secara keseluruhan iklan ini ingin mencoba menggambarkan posisi RCTI sebagai stasiun TV terdepan yang banyak ditonton oleh pemirsa TV di Indonesia selama 2010. Berbagai program TV spesial dalam bentuk ikon coba dimunculkan dalam iklan ini. Tentu saja program yang dimunculkan adalah program atau acara TV unggulan yang dianggap memiliki rating tinggi. Terlihat ada acara piala dunia, piala AFF, box office movies (bom), indonesian idol, idola cilik, beberapa sinetron, dan program berita serta infotainment.
Iklan ini tentu ingin mengambil momen tahun baru dan mencoba menegaskan bahwa pada tahun sebelumnya, yaitu 2010, mereka adalah stasiun TV yang paling banyak ditonton oleh orang Indonesia. posisi sebagai stasiun TV yang paling banyak ditonton memang sangat penting buat sebuah stasiun TV. Karena ini akan menjadi pertimbangan buat pengiklan untuk terus beriklan di stasiun TV tersebut yang berarti terus menghasilkan keuntungan buat stasiun TV. Stasiun TV yang banyak mengharapkan pemasukan dari iklan tentu sangat mengharapkan keadaan seperti ini. Untuk mencapai tujuan itu, Iklan ini boleh saja cukup mewakili dan cukup berhasil.
Yang ingin saya tekankan adalah cara pembuat iklan ini menampilkan data untuk mencapai tujuan itu. Secara sekilas bisa saja iklan ini benar-benar menunjukkan bahwa RCTI sebagai stasiun TV dengan jumlah penonton terbanyak. Apalagi dengan melihat angka 93% yang merupakan persentase yang sangat meyakinkan. Angka 93% memang ditampilkan dengan sangat mencolok dengan sebuah tanda yang merujuk pada sebuah catatan kecil di bagian bawah iklan. Nah, catatan kecil inilah yang mesti dicermati lebih mendalam sebelum mempercayai dan memahami arti angka tersebut.
Saya sendiri tidak langsung percaya dengan besar angka ini yang menurut saya tidak mungkin mewakili data untuk persentase jumlah pemirsa TV yang benar-benar menonton RCTI ini. Sebelum membaca catatan kecil itu, saya mencoba mencermati data lain yang coba ditampilkan dalam iklan ini. Terdapat data-data dalam tulisan lebih kecil yang menunjukkan RCTI menempati peringkat satu stasiun TV berdasarkan peringkat kepemirsaan 2010 dengan persentase 17,2%, sebuah angka yang terasa lebih masuk akal.
Dan, dugaan saya tidak terlalu salah setelah saya membaca catatan kaki di bagian bawah iklan. Bahwa angka 93% adalah sebuah data survei penonton RCTI yang diambil pada 29 desember 2010 yang bertepatan dengan siaran langsung pertandingan piala AFF (partai final INA vs Malaysia). yah, wajar saja angka 93% itu muncul karena sudah pasti sebagian besar orang pasti sedang menonton pertandingan maha penting dan sangat menentukan itu melalui RCTI. data-data ini berdasarkan survei yang dilakukan Nielsen yang biasa dipakai melakukan survei terhadap media dan banyak digunakan oleh media-media untuk mengukur tingkat penerimaan pemirsanya.
Menggunakan data dari satu momen saja dengan rating yang sangat tinggi seperti siaran langsung sepak bola bisa jadi sebuah strategi yang cerdas. Namun, strategi ini bisa saja jatuh kepada sebuah bentuk pembodohan publik karena hanya mengambil sebuah sampel yang sangat jauh dari keadaan yang sebenarnya. Angka 93% boleh jadi sebuah angka yang bukan hasil rekayasa dan bisa mewakili sebuah keadaan khusus atau tertentu, namun angka ini juga tidak bisa diambil untuk menggambarkan keadaan umum yang bisa menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Dengan menampilkan angka 93% sebagai judul besar, mereka seolah-olah ingin menampilkan bahwa ini adalah mewakili keadaan yang sebenarnya. Padahal tidak sepenuhnya demikian. Inilah yang bisa jatuh kepada pembohongan publik.
Sebagai sebuah iklan yang berusaha menarik perhatian, ini tidak terlalu salah. Dan, memang tidak ada data yang tidak benar, angka 93% benar didapat dari sebuah survei. ketika menampilkan data khusus untuk menggambarkan sebagai sebuah keadaan umum yang seolah-olah menggambarkan keadaan sebenarnya bisa dilihat sebuah strategi. Strategi semacam ini bisa dibilang cukup cerdas dan berhasil menarik orang untuk membaca dan percaya sekaligus kagum. Namun, ini tidak cukup buat mereka yang bisa melihat dengan teliti dan mencoba membaca sesuatu yang di balik tampilan itu.