Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Vieny Mutiara

Dust in the wind...that's me

Awas, Film Kartun Mengintai Anak!

OPINI | 29 June 2011 | 17:30 Dibaca: 1290   Komentar: 9   0

1309368624246030501

Tidak orang mengherankan banyak orang yang mengatakan televisi adalah sebuah kotak ajaib. Tiap jam, menit bahkan detik, televisi memuat berjuta informasi sudah menjadi bagian integral keluarga kita. Bahkan juga, acara-acara televisi menjadi bahan diskusi yang menarik, menggantikan topik-topik diskusi kemasyarakatan, perkembangan sosial-intelektual anak-anak kita dan menghadirkan realitas yang dikemas dalam bentuk yang diseragamkan dalam ruang kesadaran kita.

Televisi sebagai suatu benda tidak akan banyak berarti tanpa acara-acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi. Banyak yang menyayangkan tayangan televisi sudah menggantikan nilai rasa dan moral yang diajarkan oleh arang tua kita secara konvensional. Televisi saat ini pelan-pelan mulai menggeser peran kita sebagai orang tua. Anak-anak kita yang balita pun tak pelak lagi menganggap televisi sebagai sesuatu yang menarik, dengan gambar dan warna-warna menyolok yang berubah dengan cepat tiap detik.

Anak-anak, termasuk balita usia 3 sampai 5 tahun, sudah dapat menikmati tayangan televisi. Di sinilah peran kita sebagai orang tua untuk terus mengamati perkembangan anak kita dengan memilah dan memilih tontonan yang sesuai untuk mereka. Seringkali justru kita terjebak tayangan yang kita pikir aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak, yakni film kartun, padahal justru dari satu tayangan itu potensi meniru anak sangat besar.

Film kartun memang acara yang sangat disukai anak-anak karena tokohnya lucu, dan bisa berbuat apa saja, memukul, menendang, terjepit pintu, tapi bisa kembali ke bentuk semula. Singkatnya, apapun bisa terjadi di film kartun. Tapi, sebagai orang tua yang bijak semestinya kita menelaah dan mengoreksi kembali apakah tayangan itu pantas untuk menjadi tontonan anak-anak kita? Contohnya film SINCHAN yang pernah ditayangkan di salah stasiun televisi swasta kita.

Sinchan digambarkan sebagai anak umur 5 tahun yang duduk di TK nol kecil yang bandel luar biasa. Ibunya sering dibuat pusing, cerewet, pemarah dan suka memukuli Sinchan. Apa yang bisa diambil dari film kartun semacam ini buat anak-anak kita?

Selain itu masih ada film kartun lain yang tidak cocok ditonton oleh anak-anak, karena selain mengajarkan kekerasan juga bercerita tentang hubungan dengan lawan jenis dengan bebas. Film kartun seperti Naruto dan One Piece memang tidak pantas dikonsumsi oleh anak-anak. Herannya ada orang tua yang menganggap semua kartun bisa ditonton oleh anak-anak. Padahal jelas berbeda cerita antara tayangan mendidik dan bersahabat seperti Dora the Explorer, Blues Clues, Upin dan Ipin, Thomas and Friends, Pororo, Pocoyo, dengan tayangan anime Jepang yang lebih cocok ditonton oleh remaja bahkan dewasa.

Serial Sinchan dan kawan-kawannya mungkin bukan satu-satunya, ada satu film kartun yang sempat menimbulkan kegemparan di daratan Amerika sana yang masih tayang sampai saat ini. Kartun yang berjudul SOUTH PARK ini sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, dan yang paling gigih menolak film tersebut adalah para orang tua. Menurut mereka, film tersebut mengajarkan kekerasan, sadisme, sarkasme, pemutarbalikan fakta (dengan menggambarkan setan sebagai makhluk yang lemah lembut dan baik hati), homoseksual dan sederet fakta lainnya. Adegan kekerasan seperti anggota tubuh yang terpotong, darah muncrat kemana-mana, kata-kata kasar dan kejam, membuat film kartun ini nampak mengerikan. Belum lagi mereka dengan entengnya menyindir masalah rasial dan agama secara kasar. Kesadisan film ini sempat membuat orang tua di wilayah Amerika Serikat dan Kanada sana menjadi gusar. Mereka mengambil kesimpulan film kartun ini berdampak pada perubahan prilaku yang cukup signifikan pada anak-anak mereka.

Tak peduli badai protes, atas nama demokrasi dan kebebasan berekspresi kartun menyesatkan ini masih saja tayang, bahkan merambah ke negara-negara Latin dan Eropa. Bahkan si pembuatnya sendiri, Matt Stone, menertawakan protes keras dari para orang tua. Katanya Kids don’t have any kind of social tact or etiquette, they’re just complete little raging (maaf) bastards”. Dilihat dari komentar pencetus film ini pun bisa dipastikan mereka bukanlah orang yang bertanggung jawab. Walaupun film semacam itu tak tayang di Indonesia, namun dengan mewabahnya tv kabel, tentu orang tua tetap harus waspada.

Tambahan lagi, stasiun televisi nasional tidak cukup tanggap dalam menyikapi dampak acara-acara yang ditayangkan. Acara yang berkategori dewasa pun masih ditayangkan pukul pada jam tayang yang banyak ditonton anak-anak. Ketika tayang film kartun anak-anak pun tak lepas dari iklan yang kadang membuat risih mata melihatnya.

Banyak para pakar pendidikan dan psikologi yang mengingatkan para orang tua untuk benar-benar menjadi filter yang baik bagi anak-anak mereka, pun terhadap film kartun. Ada beberapa hal negatif dampak dari film kartun yaitu pertama, anak cenderung menyukai tontonan daripada media baca. Kalau ini terus dibiasakan anak kelak akan malas membaca dan lebih suka menonton dan hal ini bisa menjangkiti anak-anak kita kelak ketika mereka dewasa. Jika semua ini terakumulasi secara kolektif maka hal ini bisa membudaya.

Kedua, anak yang suka menonton cenderung bersikap sedikit asosial, tidak memiliki penyelesaian (problem solving) atas masalah yang mereka hadapi. Mereka cenderung ingin cepat, mudah dan gampang saja dalam menyelesaikan masalah tanpa menghiraukan implikasinya terhadap lingkungan.

Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa orang tua memiliki peran yang cukup besar untuk mengarahkan, memilih dan memilah tontonan terutama film kartun yang menarik buat anak kita. Mendampingi mereka pada saat menonton adalah hal yang bijaksana. Selain mewaspadai bahwa tidak semua kartun baik dan cocok ditonton oleh anak-anak, kita juga dituntut untuk lebih pro aktif mengawasi tayangan televisi. Jadi, jangan pernah biarkan anak anda menonton TV sendirian!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 13 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 13 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 14 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 12 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 12 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: