Artikel

Televisi

Iskandar Zulkarnaen

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Di rumah, saya dipanggil Dar. Di sekolah, saya dipanggil Dor. Di kampus, ada yang memanggil saya Day. Di Kompasiana, teman-teman memanggil saya Isjet (alias Iskandarjet, artinya Iskandar Z, kepanjangannya Iskandar Zulkarnaen). Temukan iskandarjet di About.me, Slideshare.net, Twitter, Facebook dan LinkedIn!

Tayangan Azan Beriklan, Kenapa Harus Resah?


OPINI | 05 August 2011 | 13:46 Dibaca: 431   Komentar: 42   3 dari 5 Kompasianer menilai menarik

Ketika sayup-sayup membaca perbincangan soal azan Maghrib di tvOne yang mengandung unsur iklan lewat Twitter, saya hanya senyam-senyum saja. Saat itu saya belum menonton video azan yang diperbincangkan. Saya cuma bisa berkicau, “mustinya dari dulu adzan beriklan. Jd tipi gak terpaksa, pemirsa jg gak terlena. Begitu azan lngsng shalat drpd nonton iklan! Cc .”

Maksud saya, kalau azan yang memakan durasi waktu lebih dari empat menit ini dipasangi iklan, pebisnis TV bisa mendapatkan pemasukan dari empat menit yang selama ini hilang begitu saja tanpa pemasukan uang sepeserpun. Saya malah berani bilang bahwa terobosan tvOne terlambat. Harusnya, sejak RCTI merintis lahirnya TV swasta satu dekade silam, hal ini sudah dilakukan. Bukan hanya untuk azan Maghrib, tapi juga azan Subuh, Zuhur, Ashar dan Isya.

Pemirsa TV pun diharapkan tidak terlena. Kalau selama ini mereka terus saja mantengin TV selama azan berkumandang, setidaknya dengan adanya iklan mereka mau meluangkan waktu untuk shalat dulu daripada hanya duduk di depan TV sambil menunggu azan lewat. Setelah itu baru balik nonton TV (kecuali orangtua mewajibkan anak-anaknya untuk membaca al Quran lalu belajar usai shalat).

Setelah menonton rekaman iklan yang sedang disidang para warga Internet (makasih buat mas Syaifuddin yang sudah berbagi tautan azan tvOne di YouTube), saya semakin percaya diri untuk tertawa sambil geleng-geleng kepala. Kenapa harus resah dengan tayangan azan yang ada iklannya?

Sebelum membahas soal azan beriklannya, mari kita kembali ke tujuan dari azan.

Azan berarti panggilan atau seruan untuk mengajak orang melakukan shalat. Ada begitu banyak rujukan, hadis dan kisah seputar azan. Saya tidak akan membahasnya secara rinci di sini (sekilas arti panggilan azan bisa di baca di sini). Tapi intinya, ketika azan berkumandang, setiap orang Islam dipanggil untuk bergegas shalat.

Azan aslinya dikumandangkan di masjid oleh mu’azzin. Tapi perkembangan teknologi memungkin azan diperdengarkan lewat televisi dan radio. Bahkan saat ini azan dapat didengar pada waktunya lewat aplikasi azan di telepon genggam.

Mari kita kembali ke TV. Meskipun tidak pernah membaca alasan pemerintah mewajibkan stasiun televisi menayangkan azan saat Subuh dan Maghrib, logika saya berkata bahwa itu dimaksudkan agar pemirsa muslim bergegas menunaikan shalat dan tidak tergoda dengan tayangan televisi yang penuh dengan hiburan. Tapi apa yang selama ini terjadi? Saat azan berkumandang, apakah para pemirsa muslim bergegas mematikan televisi untuk menunaikan shalat atau malah asik menonton visualisasi orang shalat di layar kaca?

Kalau ternyata lebih banyak yang tetap duduk di depan televisi sambil menunggu kelanjutan sinetron atau berita gosip usai azan, maka maksud dan tujuan penyangan azan yang dilengkapi dengan teks azan serta artinya tidak tercapai. Itulah  yang menggoda orang iklan di stasiun TV untuk mengolah tayangan gratisan ini menjadi tambahan pemasukan lewat iklan. Insting mereka pasti bilang, “Mubazir nih gak ada iklannya. Yang nonton azan banyak, Coy!”

Atau tanpa alasan dan ulasan di atas sekalipun, menurut hemat saya, kebijakan menyisipkan iklan ke dalam tayangan azan tetap tidak bermasalah. Karena, azan itu ada untuk dikumandangkan atau diperdengarkan, bukan dipertontonkan. Itulah sebabnya, dalam Islam tidak ada panduan syar’i yang menjelaskan cara menyajikan azan dalam bentuk tampilan visual!

Saya malah berharap, dengan adanya iklan di azan, pemirsa muslim punya motivasi lebih untuk mematikan televisi dan bergegas shalat.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: