Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Ekspedisi 9

sedang menelusuri waktu.

Gatot Kaca Vs Upin Ipin

OPINI | 08 February 2012 | 17:44 Dibaca: 560   Komentar: 7   0

Cerita wayang, yang seperti apa? Dengan tokoh-tokoh siapa? Semakin ‘ketilep’ oleh globalisasi dan ramainya media yang lebih menarik. Khusus bagi anak-anak, orangtua tidak sempat mengenalkan barang sejenak cerita wayang (baik itu ketika sebelum tidur), karena orangtua juga belum tentu memahami lho cerita wayang. Dunia mereka lebih banyak dipenuhi oleh tayangan-tayangan yang lebih sering hadir, lalu mereka tinggal menontonnya. Ya, cerita kartun Spongebob, Doraemon, Upin-ipin dsb. Disini saya katakan bukan berarti tayangan tersebut buruk, saya tidak mengatakan demikian.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya tentang cerita wayang. Barangkali sama dengan kebanyakan bahwa saya bukanlah yang mengerti cerita wayang. Usia SD, SMP, SMA, D2, saya benar-benar tidak mengerti ceritanya, tokoh-tokoh yang saya kenal cukup Pandhawa 5, Srikandhi, dan Punakawan. Pada masa itu bukan berarti tidak ada tontonan wayang. Tetapi saya akui memang cerita dalam wayang itu bertele-tele sekali, berlaku sama dengan cerita wayang yang ada di dalam kaset. Padahal sebenarnya simple, sangat simple sekali.

Begini, kurang lebih setahun yang lalu, saya menemukan novel wayang berbahasa Indonesia dari teman sekolah dulu. Novel itu ditulis oleh penulis India, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan harga sekitar Rp. 50.000, tersedia di toko Gramedia. Judul novelnya mengambil salah satu kitab induk wayang: Mahabharata. Singkat cerita saya tertarik dengan ceritanya yang simpel, didalamnya membahas tuntas 1 babon Mahabharata, cerita dari awal kehidupan, sampai akhir perang Bala Kurawa dengan para Pandhawa (Perang Mahabharata). Dibutuhkan waktu sekitar 1 Minggu dengan membaca santai, kalau dikejar 1 haripun pasti selesai.

Dari pengalaman saya di atas, saya berkesimpulan bahwa nilai ekonomis praktis saya dapat. Bagaimana tidak? ketika saya suatu waktu bertanya kepada teman saya yang mengatakan, ” Saya cinta budaya, saya cinta wayang, dalang itu lebih pinter dari guru sekalipun jangan main-main! “. Waktu itu tontonan wayang. Eh, ketika saya tanya, dia mengatakan, “Wah nek iki, aku durung  tau ngerti critane”. Ada-ada saja, nilainya menjadi setali tiga uang dengan tetangga saya yang sudah jadi pakdhe dan paman saya, mengaku suka wayang tetapi cerita Mahabharata, tidak tahu semua seri ceritanya. Lha tentu saja, mau dirata-rata orang kampung yang berhajat dalam sebulan ‘nanggap wayang’, tetapi lakon sudah ngojari (lakon yang berdasarkan diinginkan/disukai).  Sampai kiamatpun, belum tentu semua lakon bisa ditanggap 1, 1. Yang dipilih tentu yang menarik. Itulah  kenapa banyak sekali orangtua (biarpun) di desa, tetapi tidak bisa menjelaskan cerita wayang itu kepada anak (apalagi utuh).

Selesai dengan seri Mahabharata, beberapa bulan kemudian saya membeli sendiri seri Ramayana (tidak dalam tempo seminggu kemudian, karena kantong yang memang pas-pasan). Setelah membeli tentu saja saya baca sampai tamat. Setelah itu saya tawarkan kepada teman-teman dekat untuk meminjam (gratis). Sampai disini cerita sudah selesai. (Induk cerita wayang hanya Mahabharata dan Ramayana kan?)

Lalu sisi mana yang akan saya soroti? membandingkan wayang dan kartun, tidak. Saya hanya mempunyai pendapat (setelah membaca cerita wayang), alangkah baiknya jika orangtua bisa mengenalkan wayang pada anak-anaknya, karena banyak contoh-contoh terpuji yang diambil, dan wayang bisa menggambarkan kehidupan manusia, watak-watak manusia baik dulu maupun sekarang. Dan para kreatif, untuk bisa mengolah wayang ke dalam kartun, cerita anak, dll. Pada kondisi sekarang, ketika anak membaca cerita wayang di buku pelajaran Bahasa Jawa, banyak yang tidak mudeng.

# Kalau yang mengamati panggung politik, saat melihat gaya tokoh politik, akan bisa langsung hafal si Durna, si Sengkuni, si Togog dll. Salam!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 5 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 9 jam lalu

Soal Pengumuman Kenaikan Harga BBM, …

Gatot Swandito | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika PBR Merangsek ke Semifinal ISL 2014 …

Bahrur Ra | 9 jam lalu

Wasit Pertandingan Semen Padang vs Arema …

Binball Senior | 10 jam lalu

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | 11 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 12 jam lalu

Saat Tak Lagi Harus ke Kebun …

Mohamad Nurfahmi Bu... | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: