Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Johan Wahyudi

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Penyunting Naskah, Penulis Artikel, selengkapnya

Seksinya Penyiar Metro TV

REP | 30 May 2012 | 18:25 Dibaca: 3174   Komentar: 27   3

Media televise tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan dan juga informasi. Televise juga berfungsi sebagai media edukasi dan media menyampaikan pesan-pesan moral. Oleh karena itu, televise memiliki peran dan peranan cukup signifikan terhadap perubahan gaya hidup dan perilaku pemirsanya. Maka, seyogyanya orang-orang televise memerhatikan setiap tampilan dalam segalanya: pakaian, ucapan, dan perilaku. Namun, siang ini, saya dikejutkan oleh penampilan seorang penyiar Metro TV. Menurutku, penyiar pitri untuk acara 8-11berpenampilan terlalu seksi.

Ditampilkan dua orang penyiar: laki dan perempuan. Keduanya berpenampilan rapi. Laki-laki berpenampilan dengan pakaian jas sedangkan perempuan mengenakan baju. Penyiar laki itu tampak cukup ganteng. Lalu, saya dibuat tercengang dengan penampilan penyiar putri yang duduk di samping penyiar laki. Penyiar itu putri itu mengenakan baju agak kekecilan. Rok-nya pun tampak kekecilan hingga ia tampak mengalami kesusahan ketika akan melakukan sedikit gerakan. Apa pasal?

Ya, penyiar cewek itu memang mengenakan rok yang terlalu mini dan terkesan terlalu seksi. Sebenarnya wajahnya lumayan cantik. Penyiar putri itu juga berkulit halus dan (maaf) lututnya pun terlihat mulus. Lho, lutut mulus? Iyalah, karena memang lutut penyiar putri tampak begitu jelas. Bagaimana saya bisa mengatakannya?

Mohon maaf, mungkin penglihatan dan pikiranku akan dinilai kotor. Ya itu silakan saja dinilai demikian karena semua orang berhak untuk menilai orang lain. Saya hanya menggunakan penampilan keumuman karena saya pun sering menyaksikan penampilan penyiar wanita di media televise lain. Menurutku, penampilan penyiar wanita Metro TV cenderung memerlihatkan bodi tubuh daripada esensi berita yang disampaikannya. Mengapa saya berpendapat demikian?

Ada beberapa cara yang dapat dipilih oleh penyiar itu untuk menghindari kesan negative dari pemirsanya. Pertama, penyiar itu dapat menggunakan meja yang ditutup bagian bawahnya. Cara ini dapat menghindari terjadinya “gangguan” penglihatan pemirsanya. Pada awalnya, pemirsa ingin menyimak berita yang disampaikan. Namun, keinginan itu dapat berubah karena penyiarnya berpotensi “mengubah” pikiran pemirsanya.

Kedua, penyiar itu dapat menyampaikan acara sambil berdiri. Biasanya saya menyimak berita yang disampaikan Metro TV pada malam hari. Sering saya menyaksikan penampilan penyiar televise yang menyampaikan berita sambil berdiri dan berkomunikasi secara interaktif. Jelas cara itu dapat mengurangi kesan negative dari tangkapan indera pemirsa.

Ketiga, ganti baju. Saya yakin bahwa studio memiliki banyak pilihan baju atau pakaian. Cobalah penyiar itu memilih baju dan rok yang lebih longgar. Janganlah penyiar itu memilih pakaian yang terlalu ke atas untuk bagian bawah dan terlalu ke bawah untuk pakaian atas. Tentu itu tidak akan mengurangi penilaian terhadap substansi isi berita. Yakinlah bahwa pemirsa sangat mendambakan penyiar yang santun seraya menampilkan kualitas diri, materi, dan media.

Kepada pengelola Metro TV, saya bermohon agar memerhatikan tingkat pendidikan dan kedewasaan pemirsa. Metro TV ditonton secara terbuka oleh semua orang tanpa batasan usia dan tempat. Hendaknya penampilan penyiar diperhatikan agar kualitas materi berita tidak tersampingkan karena kekurangsopanan sang penyiarnya. Mohon maaf, saya juga berprofesi sebagai pengajar. Di sekolah dan kampus, saya selalu memerhatikan penampilan semua peserta didik. Mari kita berikan keteladanan yang santun kepada mereka.

Teriring salam,

Johan Wahyudi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tarian Malinau yang Eksotis Memukau Ribuan …

Tjiptadinata Effend... | | 24 November 2014 | 11:47

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | | 24 November 2014 | 09:46

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di …

Mas Lahab | | 24 November 2014 | 16:16

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 7 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 11 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Semangat Kondektur Kopaja Wanita dan Tukang …

Yos Asmat Saputra | 8 jam lalu

Melatih Berpikir Dengan Cara Bertanya …

Ramlan Effendi | 8 jam lalu

Mt. Rinjani, The Second Day …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Di Kabupaten Tasikmalaya;”Yang …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: