Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Sinetron Tukang Bubur Naik Haji, Antara Salah Fokus dan Konflik Klise

OPINI | 08 September 2012 | 05:00 Dibaca: 14713   Komentar: 26   17

13470366081978348911

foto Wikipedia

Apa yang ditunggu para penikmat/pecandu sinetron seri Tukang Bubur Naik Haji? cerita yang yang inspiratif…. Atau “tingkah konyol” sang Haji (dua kali) Muhidin dan istri, saat memusuhi keluarga Haji Sulam sang tukang bubur yang berhasil naik haji?

Sadar atau tidak sadar sutradara sinetron produksi Sinemart ini telah menggiring pemirsa agar lebih fokus pada hal yang kedua, kesombongan dan kemunafikan H Muhidin dan istrinya. Dari episode ke episode pemirsa hanya disuguhi usaha tanpa henti H Muhidin dan Hj Maemunah untuk menjatuhkan dan mendeskriditkan keluarga H Sulam, dalam berbagai modus. Diselingi cerita cinta dan kehidupan tokoh lain yang terkesan hanya sebagai penyela untuk memperpanjang waktu tayang.

Dan belakangan, ketika tokoh Hj Maemunah “dihilangkan” dengan cara yang konyol, dimunculkan tokoh Umi Enok, dengan karakter kurang lebih sama dengan Hj Maemunah, yang sepertinya hendak dijadikan partner H Muhidin untuk mengusik kehidupan keluarga sang tukang bubur.

Sebagai sebuah tontonan, sebagaimana sinetron produksi Sinemart lain yang tayang di RCTI, sepertinya sangat menghibur para pecandunya. Namun sebagai sebuah tuntunan, sebagaimana yang diharapkan dari sebuah karya sinema berlatar belakang kehidupan religi seperti yang hendak ditunjukkan dalam Tukang Bubur Naik Haji The Series, nampaknya “masih jauh panggang dari api”.

Memang benar jika dikatakan bahwa cerita dalam sinetron yang tayang setiap hari pukul 20:00 WIB tersebut, merupakan potret perilaku kita sehari-hari, yang kadang penuh kepalsuan dan kemunafikan. Namun jika perilaku buruk dari seorang Haji dan Hajah dalam beragam modus dijadikan fokus cerita….?

Sebenarnya ada dua hal dalam cerita sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series yang dapat dieksplorasi, dan diharapkan dapat menjadi inspirasi positif bagi pemirsa.

Pertama, adalah pahit getir perjuangan keras sang tukang bubur, mulai dari nol hingga sukses mengembangkan usaha, dan berhasil naik haji dengan hasil memeras keringat sendiri. Serta bagaimana dia “mengelola” kalbunya, sehingga kehidupannya bisa lebih religius paska berhaji.

Kedua, adalah latar belakang kehidupan masa lalu H Muhidin dan Hj Maemunah, sehingga membentuk karakter buruk seperti yang digambarkan dalam sinetron ini. Bagaimana ibadah akbar bagi seorang Muslim/muslimah yang mampu, alih-alih mengubah perilaku dan sikap seseorang menjadi lebih baik, justru membuat yang bersangkutan menjadi semakin sombong, iri, pendengki, munafik dan penuh kepalsuan!

Akan tetapi mengapa penulis cerita/skenario, sutradara dan pihak produser tidak tertarik untuk mengeksplorasi dengan apik kedua hal seperti tersebut di atas? Mengapa mereka lebih suka mengulang-ulang “konflik klise” seperti yang dapat disaksikan pada tayangan sinetron yang dibintangi Mat Solar dkk. itu?

Apakah ini terkait dengan masalah kualitas dan kreativitas sinematografi mereka yang terlibat dalam produksi, atau faktor kemudahan serta hitungan untung-rugi sebuah produksi? (E. SUDARYANTO, KOMPASIANA - 07092012)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 7 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 10 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Nenek Ingin Sendiri …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Menelusuri Alam Pemikiran Mahatma Gandhi …

Kukuh Fany Fatkhulo... | 7 jam lalu

Surat Terbuka Kepada Kahyang Ayu Anak …

Abest | 7 jam lalu

Ada Apa di Ternate..? …

Teberatu | 7 jam lalu

Hanya Evan Dimas, Apa Paulo Belum Pantas ? …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: