Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Bang Toyib

Satu orang pemuda belum bisa menguasai dunia tanpa sembilan lainnya.

Pantun Konyol ala Opie kumis, Olga and The Friend

OPINI | 24 November 2012 | 21:08 Dibaca: 3373   Komentar: 0   4

Aku suka pantun. Aku pasti pantengin televisi bila ada acara yang ada pantunnya.

Ketika masih netap di palembang, aku selalu nonton acara pantun bersahut-sahut yang di adakan oleh TVRI. Acara tersebut bernama gayung bersambut dipandu oleh budayawan lokal Yas budaya.

Acara tersebut diisi beberapa konstestan. Ada dua kelompok berlawanan yang tiap kelompok akan akan saling menjawab pantun. Bila pantun tak terjawab artinya kalah.

Telah lama tak melihat acara budaya lokal tersebut karena sekarang telah pindah domisili.

Di televisi swasta ANTV ada acara yang namanya pesbuker. Acara komedi tersebut diselingi pantun ketika akan jeda iklan. Namun bagiku pantun yang dibawakan Opie kumis tidak menarik alias monoton, itu-itu saja.

“masak air biar mateng”
kata itu-itu saja yang diulang tiap episode. Seterusnya cuma diambil ujung kalimat buat ngatain si Sapri.

Masih mending pantun si sapri, tidak terlalu monoton karena beda tiap episode. Tapi tetap saja ujung-ujungnya ngatain si olga. Karena Olga gagap dan tak bisa menjawab pantun yang dilempar sapri, akhirnya olga minta bantuan Opie kumis. Dan bisa ditebak kalau dia bikin pantun awal-awalnya pasti “masak air biar mateng”.

Selesai menjawab pantun ngatai sapri, kepala dibedakin?, biar apa?, biar pantun yang di lempar si opie ketutupi oleh aksi bedakan. Artinya biar penonton tak terlalu nanggepin isi pantun dan lebih ngeliat aksi bedakin kepala sapri yang botak.

Inilah, budaya kita telah banyak terkontaminasi oleh aksi konyol pelawak. Banyak sekali budaya-budaya yang dipelesetin hanya untuk cari ketawaan penonton. Padahal pantun bersambut itu bagus sekali sebagai bagian dari budaya melayu khas Indonesia.

Yang kena dampaknya remaja sekarang. Cuma tau cata berpantun lewat aksi lawakan konyol. Sebenarnya kalau mereka suka nonton TVRI lokal saja ada banyak acara pantun yang selayaknya.

Tapi mau gimana lagi, ini soal bisnis. Sulit untuk sejalan antara bisnis dan budaya. Dulu juga aku nonton TVRI acara gayung bersambut karena terpaksa. Orang tua suka, jadi mau tak mau mantengin tipi dari pada manyun.

Kini budaya bergeser demi kepentingan bisnis, budaya cuma untuk kekonyolan. Opie kumis pasti sadar itu, dia orang betawi asli, tapi mau tak mau dia juga ikut arus dan mengubah budayanya sendiri menjadi kekonyolan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: