Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Choirul Huda

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan selengkapnya

Lima Film Kartun Legendaris

HL | 13 December 2012 | 02:46 Dibaca: 4923   Komentar: 0   2

Hampir dua minggu yang lalu, tepatnya Sabtu (1/12) tim nasional sepak bola Indonesia takluk dari  tuan rumah Malaysia, skor 0-2, pada laga penentuan Grup B Piala AFF 2012.  Beberapa saat setelah duel yang dihelat di Stadion Bukit Jalil, muncul banyak opini masyarakat dari kedua negara.

Termasuk di berbagai situs, forum, maupun jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Hanya, yang menohok adalah ketika publik gencar menganalogikan sebagai Upin-Ipin yang mengalahkan Si Unyil. Pasalnya, kedua sosok imajinasi anak-anak itu berbeda. Upin-Ipin adalah tokoh rekaan dalam film kartun, sementara Si Unyil merupakan boneka yang digerakkan langsung melalui tangan.

Berbicara mengenai film kartun, hingga kini, Indonesia masih tertinggal dari Malaysia. Kendati banyak film kartun yang dibuat anak negeri, namun belum ada satupun yang go internasional, layaknya Upin Ipin atau The Little Krishna, buatan India. Apalagi sejak dua dekade lalu, anak-anak dan remaja di seluruh nusantara, selalu disuguhkan film kartun made in Jepang.

Meski begitu, sebagai bagian dari generasi yang besar di era 1990-an, pastinya saya tidak menutup mata dengan berbagai film kartun buatan luar negeri, termasuk Jepang, Amerika Serikat, Belgia, hingga Prancis. Tanpa disadari secara tidak langsung, suguhan film kartun luar negeri, ikut mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya.

Tentu, dengan beragam filter dari orang terdekat, terutama keluarga dan pihak sekolah. Agar tidak mentah-mentah menerima banyaknya film kartun yang masuk ke Indonesia. Sebab, keberadaan film kartun itu dua bak dua sisi mata pedang: Negatif atau Positif. Seiring perkembangan waktu, maka orang itu sendiri yang akan menyeleksi, mana film kartun yang layak ditonton atau tidak.

Seperti halnya Tom & Jery, yang terkesan sadis karena kedua tokohnya digambarkan hingga berdarah-darah maupun Crayon Sinchan, yang vulgar dan tidak untuk  disaksikan anak dibawah 15 tahun. Namun, film kartun juga ada sisi positifnya, terutama bila menyaksikannya didampingi keluarga, seperti Saint Seiya, yang mengenalkan 12 rasi bintang, atau dalam film kartun Doraemon, yang mengajarkan sang anak agar tidak malas seperti yang dilakukan Nobita.

Tapi,  saya sendiri memimpikan, kelak beberapa tahun mendatang film kartun karya anak bangsa, dapat diterima luas di mancanegara…

*     *     *

1. Remi

13553398641318204233

Kartun Remi (sumber: animenation.net)

Selamat pagi gunungku, selamat pagi pohonku
Selamat pagi teman-teman semua
Aku kan pergi jauh demi cita-citaku
Remi mohon doa restu darimu

Selamat berpisah semuaunya
Aku kan pergi untuk mengembara
Jangan bersedih karena kepergianku
Kelak pasti kita akan bertemu

Mungkin untuk saat ini, sudah jarang yang mengenal lagu pembuka dari film kartun Remi. Tentu saja, karena dibanding Doraemon dan Dragon Ball yang selalu ditayangkan ulang hingga kini, Remi, sama sekali belum ditayangkan kembali.

Padahal, sekitar pertengahan tahun 1995, Remi merupakan salah satu film kartun sangat ditunggu-tunggu oleh anak kecil maupun remaja yang baru belasan tahun. Bahkan, saat itu setiap Kamis sore, saya dan beberapa teman sebaya selalu membaca sinopsisnya melalui majalah Bobo dan Tabloid Fantasi.

Kisahnya sederhana, tentang seorang anak kecil yang harus menjalani masa kanak-kanaknya dengan mengamen di seantero negeri Prancis. Bersama seniman jalanan yang kelak menjadi Ayah angkat, tiga ekor anjing dan seekor monyet, Remi terus berkelana mencari rezeki halal untuk kehidupan sehari-harinya.

Bagi saya sendiri, Remi adalah film kartun yang sangat berkesan. Sebab, dari tubuhnya yang kecil dan ringkih -berbeda dengan Nobita- Remi sudah mengajarkan cara berjuang hidup di jalanan. Bukan dengan mengemis, tapi justru menjual apa yang dia bisa, seperti permainan musik serta gerak pantomim yang diperagakan sang monyet. Setelah hampir dua windu, saat ini rasanya sulit mencari film kartun yang sangat mendidik dan inspiratif layaknya Remi.

-

2. Ikkyu San

13553399035267704

Ikkyu San (more-japan.com)

Awalnya, menyaksikan film kartun Ikkyu San, sangat membosankan. Sebab, entah karena tokohnya yang biasa saja maupun alur ceritanya yang gampang ditebak. Apalagi, suara-suara aneh yang diketok dari bocah berkepala plontos ini, jika ingin memikirkan sesuatu. Tok, tok, tok…

Namun, setelah menyaksikan beberapa episode -plus banyak iklan- saya sendiri jadi ketagihan. Sebab, Ikkyu sendiri merupakan sosok anak cerdas dibanding kawan sebayanya. Dia mampu memecahkan berbagai persoalan, termasuk untuk orang yang lebih dewasa, cukup dengan bersemedi memusatkan perhatian dan diiringi ketukan mangkok tiga kali ala Bhiksu.

*     *     *

3. Candy-candy

13553406091808344636

Candy-candy (anime-planet.com)

Sosok gadis kecil berambut pirang, bermata besar dan berhidung lancip. Itulah Candice White Ardlay, atau biasa dipanggil Candy. Seorang anak yang bercita-cita menjadi perawat, harus menjalani kisah hidupnya dengan ruwet. Termasuk ketika di usia belasan, menemukan kawan yang kelak menjadi pacarnya, Pangeran Albert.

Dalam film kartun Candy-candy, digambarkan mengenai prilaku seorang gadis kecil yang giat mengejar impiannya. Meski beberapa kali gagal, namun Candy tetap tidak pantang menyerah. Hanya, kelemahannya adalah Candy adalah sosok yang mudah trenyuh. Terutama terhadap lawan jenis sebayanya, yang membuat mata besarnya sering berkaca-kaca.

*     *     *

4. Doraemon

13553403741498060273

Doraemon (stuffpoint.com)

Untuk film kartun ini, mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Sebab, Doraemon merupakan film kartun pertama yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta yang saat itu baru mengudara hingga kini memasuki usia dua dekade lebih. Mungkin, banyak yang sudah menyaksikan Doraemon dari tahun 1989, sejak masih kanak-kanak hingga kini punya beberapa anak lagi…

Yang menarik dari Doraemon, sebenarnya bukan tokoh utamanya si robot kucing. Melainkan adalah Nobita, seorang pemalas yang selalu mengandalkan barang-barang dari kantong ajaib Doraemon. Mulai dari baling-baling bambu, pintu ajaib, hingga makanan khas Jepang, Dorayaki. Apalagi film ini semakin berwarna dengan diramaikan Giant -dulu dibaca Jayan- anak bertubuh tinggi besar, lalu Suneo sosok kaya raya tapi menyebalkan, Dekisugi, anak jenius dan pesaing berat Nobita, serta Shizuka, yang menjadi rebutan.

*     *     *

5. Sailor Moon

1355340517384400737

Sailor Moon (comicvine.com)

“Tuxedo Bertopeng…”

Begitulah kalimat yang selalu diteriakan dari lima sekawan remaja perempuan, yang tergabung dalam pasukan cantik. Dipimpin oleh Usagi (Sailor Moon), Ami (Merkurius), Rei (Mars), Makoto (Jupiter), dan Ai (Venus), kelima pahlawan muda itu bahu-membahu membasmi kejahatan.

Namun, selain semangat melawan musuh, kelima gadis tersebut juga saling bersaing memperebutkan seorang Mamoru, pria muda nan misterius, yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap ala jas. Sosok pahlawan yang dijuluki Tuxedo Bertopeng itu, kerap menjadi penyelamat Usagi dan kawan-kawan. Selain itu, yang unik dari film kartun ini adalah, secara tidak langsung penonton diberi pengetahuan mengenai nama-nama beberapa planet yang ada di tata surya.

*     *     *

*     *     *

Referensi: Majalah Bobo, Tabloid Fantasi, Tabloid Hoplaa

*     *     *

- Jakarta, 13 Desember 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman Dalam …

Tubagus Encep | 8 jam lalu

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | 8 jam lalu

Pembuktian Slogan Aku Cinta Indonesia …

Lukman Salendra | 8 jam lalu

Prosedur Sidang SIM di PN …

Kambing Banci | 8 jam lalu

Penundaan Revisi UU MD3 dan Kisruh Golkar …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: