Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Iwan Permadi

a freelance tv creative

TV: Menghargai Pemirsa!

OPINI | 26 December 2012 | 18:59 Dibaca: 424   Komentar: 0   1

1356523107605675093

Tayangan program televisi berbobot tanpa iklan itu ternyata menarik pemirsa televisi. Coba tengok tayangan-tayangan TVRI (Televisi Republik Indonesia, Televisi Nasional Tertua-50 tahun) yang sekarang sudah dapat kita saksikan di channel UHF-Ultra High Frequency (Jakarta-Channel 7). Dari tayangan langsung sepak bola Liga Italia - Serie A secara lengkap dan utuh hingga dialog Forum Soegeng Sarjadi yang inspiratif dan memberikan rangkuman yang berkelas mampu membuat terobosan tayangan televisi yang memikat.

Sebelum televisi swasta komersial yang bersiaran nasional ini menjamur sebenarnya ada pakem tidak tertulis agar durasi slot iklan itu disesuaikan dengan body acara. Katakanlah acara 1(satu) jam tayangan sebenarnya body acaranya cuma 48 menit sisa 12 menit diisi iklan (commercial spot). Dari body tayangan yang 48 menit karena ada 6 (enam) segmen (penulis kasih contoh kalau 6 segmen saja) kalau durasi semua segmen rata maka masing-masing segmen berdurasi 8 (delapan) menit. Dari 8 menit itu, segmen 1(satu) dan segmen (6) dikurangi OBB (Opening Billboard) dan CBB (Closing Billboard) yang berdurasi (anggap 30 detik) dan bumper out dan bumper in, yang masing-masing 5(lima) detik total : 01:10 , ditambah bumper in dan out pada 4 segmen lainnya sepanjang 40 detik…..total bumper 01:50 detik. Body acara akhirnya Cuma 46:10 detik di kertas , dimana harus dipotong lagi pada saat acara berlangsung VT (tayangan video tentang topik yang dibahas), street opinion (pendapat/opini masyarakat), pembagian hadiah dll. Jadilah sebenarnya penonton itu secara kasar dalam 1 jam penayangan cuma kebagian 40 menit acara. Dan lucunya kalau acaranya berating dan bershare tinggi ,body acara dikurangi dari 48 menit bisa menjadi 45 atau Cuma 40 menit saja, bayangkan kebagian berapa menit penonton dapat menyaksikan acara yang disukainya. Dan itu belum lagi sepanjang acara ada superimposed, running text, adlib dll yang “jujur” mengganggu konsentrasi penonton.

Bicara mengenai tayangan Soegeng Sarjadi Forum kemarin dengan tema PSSI = Partai Politik yang berdurasi 1 jam dan memang ditayangkan cuma 1 jam tanpa pembagian segmentasi dan tetek bengek pesan sponsor, sebagai penonton kita puas menyaksikan acara tersebut. Pak Soegeng ternyata memang piawai memetakan persoalan, menarik kesimpulan dan memberikan solusi dari 4 (empat) nara sumber yaitu Budiarto Shambazy (Wartawan kawakan Kompas), Bambang Harimurti(Pemred Majalah Tempo), dan dua perwakilan dari PSSI (Halim Mahfud) dan KPSI (Toni Apriliani).

Dan yang menjadi bobot acara ini dengan acara pembanding seperti JLC (Jakarta Lawyers Club-TV One-Karni Ilyas) yang memang pandai menggiring masalah tapi tanpa solusi, atau acara Economic Challenges-Metro TV-Tommy Soeryopratomo) yang juga cerdas memilih tema dan bintang tamu. Namun pada acara Sugeng Haryadi show, ada keberanian, terobosan, dan solusi dari Pak Sugeng untuk membicarakan permasalahan yang ada. Seperti kesimpulan dari acara ini dimana Pak Sugeng ingin menemui langsung 2 (dua) tokoh yang bersaing dalam organisasi sepak bola saat ini yaitu Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie, karena keduanya inti permasalahan yang ada (Godfathers /Untouchtables dibelakang masalah PSSI vs KPSI), dan keduanya adalah teman Pak Sugeng. Kalau Pak Karni dan Pak Tommy, maaf , apakah mampu melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Pak Sugeng di luar acara?

Bicara menghargai pemirsa, tayangan TVRI tanpa iklan ternyata membuat benang merah tema acara tidak terserabut/mengalami distraksi dengan pembagian segmen iklan yang “banyak” dan ada yang isinya tidak mendukung tema acara dan tidak mengembangkan konsentrasi serta imajinasi penonton. Perlu di masa mendatang TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik mengambil peran lebih besar untuk mengambil alih tayangan-tayangan berbobot tanpa iklan sehingga TVRI sebagai Stasiun televisi yang mempersatukan bangsa, karena mampu menjangkau 82(delapan puluh dua) persen total populasi Indonesia, mampu menjalankan salah satu isi dari Pembukaan UUD 45, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa (pemirsa) dengan tayangan berbobot tanpa embel-embel dan promosi iklan yang tidak mencerdaskan malah merangsang orang berperilaku konsumtif.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: