Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Iwan Permadi

a freelance tv creative

Penantang Terakhir-bukan Kuis Biasa

OPINI | 05 January 2013 | 22:23 Dibaca: 2005   Komentar: 1   1

13573992452119698290

Kuis Penantang Terakhir yang ditayangkan Metro TV setiap Sabtu malam memang kesan awalnya sepertinya mengikuti trend kuis lainnya yang hanya mencari pemenang pada setiap episodenya. Namun lewat pertanyaan-pertanyaan yang kreatif yang masuk kategori “dibuang sayang” menjadi ilmu pengetahuan baru yang berguna bagi pemirsanya.

Coba lihat pertanyaan-pertanyaan ini:

1.Harrison Ford (yang aslinya bintang film Hollywood untuk trilogy Starwars dan Indiana Jones) ternyata sejenis laba-laba.

2.Kata Seoul yang merupakan ibukota Korea Selatan (Republik Korea) apakah artinya ibukota? Jawabannya ‘benar”.

3.Mana yang duluan Telor atau Ayam? Jawabannya Ayam duluan

4.Intercourse itu adlah sebuah kota di negara bagian mana di AS? Jawabannya Penssylvania

Jenis-jenis pertanyaan trivia(sepele) ini sebenarnya sudah pernah diajukan dalam sejumlah kuis lainnya (khas Triwarsana) , karena si empunya acara, Helmy Yahya memang lama berguru kepada Ani Sumadi (bisa dibilang Ratu Kuis Indonesia pada tahun 1970-1980an). Buat pemirsa TVRI , tentu masih ingat produk kuis jaman itu seperti Pesona 13, Siapa Dia  dll dengan host Kris Biantoro. Jenis pertanyaan saat itu juga sama seperti diatas..seperti siapakah nama Kepala Staf Angkatan Laut Negara Swiss? Jawaban pertanyaan ini sampai hari ini tidak ada jawabannya sebab Negara Swiss(Switzerland) tidak punya lautan/samudra karena dibatasi negara lain di sekelilingnya seperti Italia, Perancis,Austria dan Jerman

Segmentasi acara ini memang banyak mengikuti kuis sejenis Who Wants to be A Millionaire (RCTI/ANTV) , Chance of  A Lifetime (SCTV) dan lainnya dimana pada babak penyisihan (consolation rounds) pesertanya ada 10 orang lalu tereliminasi hingga pada babak final cuma ada satu finalis yang memperebutkan hadiah utama. Format saling menantang seperti ini juga pernah ada di kuis Russian Roulette (Trans TV) yang waktu itu bagi peserta yang sial harus memutar lobang  peluru (ala Russian Roulette) untuk menentukan nasibnya  masuk atau tidak ke dalam lobang sumur dibawah set kuis tersebut. Format Pertanyaan selain kuis Penantang Terakhir berupa pilihan berganda (multiple choice-seperti jenis pertanyaan di sekolah) tetapi pertanyaan di kuis ini Benar atau Salah.

Terlepas dari kemiripan format dan presentasinya, kehadiran kuis Penantang Terakhir cukup menghibur sebab tayangan ini memang lebih cocok ditayangkan di stasiun televisi berita bukan di stasiun televisi komersial yang bobot intelektual penontonnya berbeda.

Kemudian pemilihan peserta juga harus disesuaikan dengan tampilan dan bobot acara ini. Pemilihan profesi dan look rata-rata peserta sudah oke, sebab contoh episode peserta Stand Up Comedy-banyak pesertanya bukan asyik menjawab tapi sibuk ngelawak padahal mereka lucu kalau nggak banyak ngomong (reaktif aja).

Terakhir kefasihan membawakan acara ini akan berkurang pula bila pemahaman pembawa acara (Helmy Yahya) kepada pertanyaan tidak canggih. Penjelasan Helmy yang cukup lengkap tentang kisah Harrison Ford masuk ke dunia film padahal awalnya cuma tukang kayu (tukang bangun set) membuat penonton tidak mengalami “dead time” (kekosongan waktu atau kalau disini  ada istilah “diam sesaat  karena ada setan lewat”) seperti banyak dilakukan pembawa acara lain yang wawasannya kurang luas.

Pilihan kuis ilmu pengetahuan seperti  kuis Galileo (SCTV) pada tahun 90an sangat membantu referensi penonton bahwa dunia ilmu bisa dipresentasikan dengan cara yang menarik dan mengikat peserta.  Jadi saatnya menciptakan banyak acara televisi yang bermutu sehingga tidak perlu Ayah dan Bunda harus ikut menemani/menonton bersama, karena konten acara televisinya sudah aman.

Yuk para creator program televisi  kita buat trend program seperti ini dan formatnya tidak hanya kuis saja. Dengan acara ini dapat dihindari banyak pemirsa  menganggap “ banyak acara televisi kualitas outputnya sampah”…….MasyAllah!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kuliner: Dari Mesir ke Yordania Bersama …

Andre Jayaprana | | 20 September 2014 | 18:49

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Asian Games 2018, tantangan bagi Presiden …

Muhamad Kamaluddin | | 21 September 2014 | 04:34

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 5 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Pemberian Itu Bahasa Kasih …

Roy Soselisa | 7 jam lalu

Dosa Sarjana Ilmu Komunikasi (Media) …

Yons Achmad | 8 jam lalu

Jokowi: Pendidikan, Riset, dan Intelejen …

Ay_satriya Tinarbuk... | 8 jam lalu

Menggadaikan Wakil Rakyat …

Yustinus Sapto Hard... | 8 jam lalu

Keadilan untuk Orang Miskin vs Keadilan …

Jubir Darsun | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: