Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Iwan Permadi

a freelance tv creative

Sinetron Indonesia Lawyers Club!

OPINI | 16 January 2013 | 16:15 Dibaca: 1449   Komentar: 0   2

13583562451251328165

Akhirnya kesampaian juga menyaksikan acara Indonesia Lawyers Club (ILC) secara lengkap yang tampil cukup menarik untuk episode : Vonis Angie (Angelina Sondakh) Ringan atau Berat, Selasa malam, 15 January 2012. Setelah pada episode-episode sebelumnya terlihat program ini hanya memain-mainkan isu seperti melakukan juggling dan tidak memberikan solusi , namun pada episode kali ini , ada sedikit solusi yang didapat (lumayan daripada nggak didapat) yaitu betapa para pengacara, LSM, KPK, mahasiswa dan lainnya mengungkapkan perbedaan mereka dalam melihat vonis ringan Angelina Sondakh.

Pihak keluarga Angie yang diwakili ayahnya (Lucky Sondakh) , pengacaranya (Teuku Nasrullah), petinggi Demokrat macam Gede Pasek Suardika dan pengacara Deni Kailimang cenderung sudah puas dengan hukuman 4.5 tahun Angie dan tidak setuju dengan banding dari JPU (Jaksa Penuntut Umum)…dan mereka rame-rame terkesan menyalahkan JPU karena tuntutannya salah pasal dan tidak berdasar……dan ujung-ujungnya menganggap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai lembaga yang “terlalu berkuasa” sehingga perlu dibentuk badan pengawas. Sesuatu yang menjadi bahan “lelucon” , juru bicara KPK, Johan Budi karena KPK kan yang membentuk DPR jadi buat apa lembaga pengawas lagi.

Lain lagi komentar dari rekan satu partai Angie, si “Poltak” Ruhut Sitompul , yang katanya sudah dipecat Partai Demokrat, malah cenderung memberikan masukan yang netral disatu sisi menyayangkan JPU yang mengambil pasal penuntutan yang memungkinkan vonis Angie menjadi ringan dan disisi lain meminta anggota DPR dari Partai Demokrat yang tersangkut masalah korupsi untuk mengundurkan diri dengan demikian tidak perlu digaji. Sebab aneh hingga sekarang Angie yang sudah divonis bersalah, gaji perbulan yang duitnya dari rakyat, terus disetor ke rekeningnya dengan alasan keputusan Angie bersalah mau diberlakukan tapi karena JPU naik banding maka Angie belum bisa dipecat? Padahal Nazaruddin langsung dipecat waktu itu justru ketika belum divonis bersalah. Double standard? Sudah pasti!

Komentar ICW (Indonesian Corruption Watch)dan Gresnews (Agustinus Edi Kristianto) menyayangkan juga pasal yang digunakan JPU yang harusnya menjerat Angie lebih berat dibantah Johan Budi sebab KPK punya bukti lain dan memang akan melakukan banding (tidak jelas apakah menggunakan pasal yang lama atau yang baru) namun tetap menghargai keputusan Hakim nantinya.

Komentar dari Rufinus Hutauruk ,pengacara Nazaruddin yang mengkritik pengacara Angie karena menggunakan pasal yang justru dulu tidak boleh digunakan Nazaruddin juga memperlihatkan betapa apapun caranya para pengacara selagi bisa dan mampu menjungkir balikkan aturan yang ada……kalau perlu jilat ludah nggak apa-apa yang penting klien senang dan bebas dari hukuman berat.

Kalau dijadikan tayangan sinetron episode ILC dengan episode berjudul Vonis Angie Ringan atau Berat bisa dibagi jadi 3 (tiga) episode seru. Mengingat tema ini menurut Karni Ilyas, sebagai host acara ini, merupakan tema pilihan banyak pemirsa dan sudah dapat diduga sebelum diproduksi sinetronnya ada dua karakter utama yang menjadi bintang. Karakter Protagonis (Positif dan Baik) adalah KPK, sedangkan yang Antagonis (Negatif dan Public Enemy number 1) yaitu Angie dan Pengacaranya. Ceritanya (Menurut Kemauan Banyak Pemirsa ), Masak Vonis Hukuman Koruptor dan Maling Ayam sama? lalu plot utamanya bagaimana supaya vonis Angie diperberat sehingga memungkinkan Angie mendapatkan hukuman 12 tahun dan disuruh mengembalikan dana yang dikorupsinya. Eng ing eng………..

Plot tambahannya bisa beberapa antara lain perseteruaan antara Pengacara Anas Urbaningrum (Patra M.Zen) dan pengacara Nazaruddin (pengacara Anas tersinggung karena pengacara Nazaruddin menyebut-nyebut Anas Urbaningrum (AU) dan menghubungkan antara nomor partai Demokrat untuk pemilu 2014 dan hukuman yang nantinya diterima AU kalau tertangkap bersalah-dengan angka 7 sampai 10 tahun) ; kemudian perselisihan pasal apa (11 atau 12) untuk menjerat Angie antara JPU(KPK) dan LSM (Lembaga Sosial Masyarakat)-ICW & Gresnews ; adu debat Hakim, tentang vonis yang dijatuhkan ke Angie, pada persidangan pertama dengan JPU/Media ;  serta polemik KPK ingin dilemahkan dengan ide membuat badan pengawas KPK ; selanjutnya pro kontra pendapat dari Ketua Majelis Hakim Kasus Angie, Sudjatmiko, yang memberikan opininya pada saat siaran langsung dengan Taufiqqurrahman Syahuri (Komisioner Komisi Yudisial), Kenetralan/Ketidaknetralan Siswono Yudhohusodo sebagai politikus senior dan Ketua Dewan Pakar Partai Demokrat tentang vonis Angie,  serta terakhir adu mulut mahasiswa (Universitas Pelita Harapan dan Atmajaya) dengan pengacara dan pendukung Angie dll….seru deh!). Untuk credit title pada akhir mini series 3 (tiga) episode nanti akan ditampilkan komentar dari Hakim yang sudah pensiun, Benyamin Mangkudilaga.

Kesimpulan saya melihat acara tadi malam adalah betapa piawainya para ahli hukum Indonesia membela masing-masing kepentingan……hanya saja kepentingan yang mbayar saja…….dan masing-masing sudah tahu “range” luas lapangan yang dia ingin mainkan (seperti pemain bola nggak mungkin dong dia bisa main di segala posisi)…..yang penting aman…..dan masing-masing punya kartu ‘truf’…….masing-masing saling menyandera dan tersandera……….rakyat sebagai penonton cuma dapat tontonan bukan tuntunan…….dan tergambar jelas……ada uang ada barang……ada uang…..semua bisa diatur! Toplah Indonesia sebagai negara hukum yang berdasarkan UUD (Ujung-ujungnya Duit) dan KUHP (Kasih Uang Habis Perkara).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 8 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 8 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 9 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Giri Lumakto | 9 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 10 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: