Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Menguak Rekaman Percekcokan Rasti dan Eza

OPINI | 26 January 2013 | 22:36 Dibaca: 2788   Komentar: 0   0

SEPERTINYA Eza beserta pengacaranya sangat terkejut dengan pembeberan barang bukti rekaman cekcok penganiayaan yang dituduhkan pihak Rasti. Dan semuanya akan jadi lagu lama, ketika cara kerja pengacara melulu begitu. Sehingga saya yang awam ini merasa wajar berkata, “ini pengacara kok terkesan membela ‘penjahat’.


Maklumlah, kayaknya pengacara ‘akan dibilang sukses’ kalau berhasil memosisikan hukum ’secara adil dan merata’. Minimal tidak membuat kliennya dihukum ‘terlalu berat’. Jadi kita pun semuanya hanya akan menerima sesuatu yang serba lagu lama. Penyidikkan yang berlangsung lama, kurang mendapat kepuasan dari pihak korban. Penyidik serba berhati-hati karena tertuduh membawa pengacara. Sehingga perkara masuk memasukkan penjara bukanlah hal yang mudah. Perlu sejenis ahli forensik untuk mengkaji apakah rekaman itu asli atau palsu. Hahay, kayak video ariel ajah.

Dan apakah pihak Eza tidak akan dipenjara? Atau cuma diharuskan wajib lapor seperti yang pernah diterima Pasha Ungu yang pernah diputuskan bersalah akan kasus KDRT terhadap mantan istrinya? Ayolah, selama ada duit … (isi sendiri, ingat kasus Angie).


Ardina Rasti - Korban yang Cerdas

“Sampai kapanpun, di manapun, sampai dia di tempat dia seharusnya ada (penjara),” begitu ungkap Rasti di kapanlagi.com. Saya senang dengan public speaking gadis sampul ini. Dia sangat terlihat jujur. Meski fisiknya makin kurus dan terlihat masih terpukul, dia mampu bersikap matang.

foto: kapanlagi.com

Sebelum membeberkan bukti rekaman, Rasti menunjukkan bukti foto penganiayaan sebanyak tiga buah. Foto wajahnya, foto blackberry yang hancur, dan pintu yang rusak.

Foto: kapanlagi.com

Namun hal itu tidak membuat Eza ditahan.

Sepengamatan saya, Ardina Rasti memanglah artis dengan citra baik. Tak pernah ia melakukan sejenis isu-isu buatan untuk mendompleng film yang akan dirilis. Jadi lumyan keliru jika pendukung Eza Gionino menuduh Rasti cari senasi. Yeah, seperti yang pernah saya tulis di artikel Ardina-Eza.

Saking penasarannya, saya habis mendengar rekaman percakapan ‘mendebarkan’ Rasti dan Eza via youtube. Video yang rilis dua hari yang lalu ini dibagi menjadi delapan bagian dan sudah banjir komentar. Rata-rata memang menyalahkan pihak Eza (tentulah). Per videonya sendiri sudah ditonton 10 ribuan lebih (tiga video pertama sampai dilihat 40 ribuan lebih). Ini menandakan bahwa kasus ini begitu menarik perhatian massa. Terlebih dunia entertainment merupakan dunia yang lebih diperhatikan masyarakat Indonesia terutama dari kalangan anak muda.

Apalagi kalau menyimak komentar-komentarnya yang kebanyakan menjadikan Eza sebagai antagonis:

capture: wanasedaju.blogspot.com

Sampai suara yang biasa kita temukan seperti:

capture: wanasedaju.blogspot.com

Isi Percakapan

Rekaman itu berisi percekcokan antara Rasti dan Eza. Rekaman berdurasi 45 menit lebih dan diposting kapanlagi.com di channel youtubenya dengan 8 pembagian. Kapanlagi menyensor kata-kata kasar dan memperjelas kejernihan suara dengan software tertentu.

Rekaman itu berisi intimadasi keras yang DIDUGA dilakukan om Eza. Lewat audio doang, manusia waras pun tahu kata-kata yang dilontarkan Eza sangat sarkastik dan tidak pantas. EZA TIDAK MEMBERIKAN RASTI KESEMPATAN BERBICARA. Eza bagai diktator, bahkan seperti yang dikatakan kebanyakan komentator di forum atau di youtube, dia seorang psikopat.

DUGAAN kekerasan verbal sudah sangat jelas terdengar. Ketika kata-kata kasar untungnya disensor pihak kapanlagi. Sementara dugaan kekerasan fisiknya terdengar lewat suara tamparan, suara benda yang dibenturkan, jeritan dan tangisan Rasti, dan sebagainya.

Rasti memang mempersiapkan hal ini. Sangat menyayangkan kalau ada komentator yang mengatakan kalau Rasti menjebak Eza. Menurut saya ini tindakan antisipasi yang brilian. Kalau kita sudah mengenal hape atau video kamera, kenapa kita tidak menggunakannya?

Perlakuan kasar Eza diakui Rasti muncul lima bulan sejak mereka berpacaran. Saat rekaman itu terjadi, Rasti memang berada di rumah seorang diri. Sebelumnya Rasti meng-SMS ibu Eza, mengeluhkan kalau Eza selalu bersikap kasar. Namun Eza marah, ia mendatangi Rasti dan marah-marah.

Menurut sahabat Rasti yang bernama Sharena Gunawan, pemain FTV, Eza memang dikenal peminum. Apakah saat perckcokan Eza dengan Rasti, Eza dalam keadaan mabuk? Sepertinya tidak, bicaranya lafal dan jelas sekali.


Intimidasi Verbal dan Fisik

Lelaki sejati tidak pernah memukul wanita, apalagi belum berstatus suami istri. Apapun, kekerasan yang merugikan pihak lain tidak dibenarkan. Hanya karena mengeluh pada ibu Eza, dan perkara lama di kamar mandi, Eza berang-seberang-berangnya. Eza bahkan tidak memberi kesempatan Rasti untuk berbicara. Setiap kali Rasti bersabar ingin mengungkapkan perasaannya, Eza mendominasi pembicaraan ala diktator.

Bukti Keaslian Rekaman

Tentu saja pengacara pihak Eza perlu “agenda” khusus untuk memastikan apakah rekaman itu asli. Menurut saya yang awam, rekaman itu memang benar-benar asli. Rendah tinggi volume suara menandakan kalau rekaman itu benar-benar dibuat pada saat ini.

Psikopat yang Bodoh

Psikopat adalah sebutan lain untuk orang yang memiliki gangguan mental tingkat akut. Kata ini kemudian didampratkan pada pihak Eza ketika massa yakin betul Eza melakukan kesalahan yang dituduhkan Rasti.  Meskipun kekerasan patriarkis begini memang sering terjadi sehingga dinilai “sudah tak aneh lagi”.

Jika memang benar, pihak tertuduh mungkinlah seorang manja atau punya latar belakang masa lalu ‘yang kelam’. Alasan apapun, semuanya tak dibenarkan kala ia mengasari perempuan seenak udel sendiri. Barangkali setelah ia selesai melakukan kekerasan, ia merasa baik-baik saja dan kembali menjalani hari-hari seperti biasa. Namun perempuan lebih mungkin memikirkan rasa sakit. Setelah lama menunggu dan sang mantan tak juga kembali dan minta maaf, Rasti pun akhirnya melaporkan ke pihak berwajib. Meskipun kita akan nemu suara pendukung pihak lelaki seperti:

capture: wanasedaju.blogspot.com

Apakah Eza akan Masuk Penjara?

Sampai sejauh yang saya tahu, Eza dijerat penganiayaan ringan. Sangat tidak adil di pihak perempuan. Sebab ini bukan masalah seberapa parah pukulan yang dilancarkan, tapi seberapa pedih diperlakukan secara batiniah. Berani memprediksi? Apakah Eza akan ditahan? :D

*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: