Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Taradusta Lema

Berharap menjadi seekor burung. Blog saya: http://taradusta.blogspot.com/

Sexsophone - Tayangan Membanggakan Aib

OPINI | 01 February 2013 | 01:09 Dibaca: 2237   Komentar: 0   1

Sexsophone adalah tayangan bincang-bincang bertemakan kehidupan malam/dewasa (baca: sex). Dipresenteri mantah anchor RCTI, Chantall Della Conceta, saya sendiri tidak pernah mengetahuinya kecuali dini hari tadi. Di sana mereka membicarakan tema one night stand.

Saya pikir hanya akan menjadi acara bincang-bincang biasa. Tapi ketika acara itu kedatangan narasumber yang tak segan-segan mengutarakan kehidupan seks bebasnya, wah saya cuma bisa geleng-geleng kepala dan berkata sama tembok “kok, bisa?”

ISTILAH KERENNYA KUMPUL KEBO SEMALEM

One Night Stand jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia berarti Cinta Satu Malam. Tapi kalau disarkastikan sama dengan kumpul kebo semalam. Adalah istilah ketika dua orang lawan jenis/sesama jenis saling tertarik secara seksual,kemudian melakukan hubungan seks/koitus tanpa komitmen.

ONS lebih sering terjadi karena pengaruh alkohol dan terjadi saat clubbing. Kita enggak perlu heranlah akan hal ini. Sebab mabuk itu adalah jalan seseorang untuk melakukan maksiat lebih jauh. Saling cocok, ke hotel atau bahkan mungkin di toilet atau parkiran, mereka pun “main”.

Namun ada pula yang melakukannya saat sadar. Misalnya temu darat, ngobrol/makan-makan, terus “main”

CINTA DALAM ONE NIGHT STAND

Karena diawali hubungan seks suka sama suka, salah satu pihak mungkin ada yang berharap mendapatakan cinta dari pasangan yang memberikannya kepuasan seks semalam. Lebih banyak yang cuma sekali berhubungan setelah itu bubar jalan. Ada juga yang menjadi sahabat namun yang akhirnya menjalin hubungan pacaran bahkan menikah, kayaknya jarang terjadi.

PENGAKUAN DARI DUA NARASUMBER

Jessy, dengan pakaian mini berwarna merah, mengaku sudah menjalani ONS sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Ada yang bubar jalan, ada yang cuma berteman dalam seminggu, dan ada yang sampai pacaran meskipun singkat.

Sementara satu lagi perempuan berpakaian mini berwarna hitam. Dia mengaku melakukan ONS sekali dan akan membawa hubungan dia dan pasangan kumpul kebo semalamnya ke jenjang pernikahan.

APAKAH MEREKA EXTRAS?

Extras adalah figuran atau pemain bayaran. Apakah acara ini juga melakukan hal itu? Pertaruhan nama baik dong ya, kalo narasumber itu mengisahkan hal fiktif?  Mending fiktif,karena mungkin kehidupan mereka biasa saja sehingga orang-orang di lingkungannya tahu. Misalnya dia ternyata seorang penjual jamu yang “dititah” pihak TV untuk menjadi perempuan nakal.

Kalau pun narasumber itu asli, apakah kita perlu memberikan apresiasi atas keberanian mereka? Atau malah menyayangkan? Saya yakin kalau ada orang-orang agamawan yang menyaksikan, ini semua akan dipandang dari sisi moral. Maka terkutuklah narasumber-narasumber ini. Atau semua yang ikut seta dalam berjalannya acara tersebut?

BUDAYA MEMBANGGAKAN AIB

ONS bukan barang aneh di kehidupan kota-kota besar bahkan masyarakat tradisional. Tapi ketika acara TV itu mengangkatnya, terlebih kala mendatangkan narasumber tanpa topeng, wow, itu sangat berani, sekaligus gegabah.

Tayangan macam ini pernah ada sekira pertengahan 2000-an di RCTI dengan ikon Miss Bantal. Di sana membicarakan banyak tema seks, dengan narasumber yang pakai topeng, meski pernah ada yang tanpa topeng. Narasumber yang mengakui kegilaan mereka juga pernah tayang di acaranya Desy Ratnasari di Trans TV, dan acaranya Anjasmara di TPI (kalau yang ini kelihatan setting-annya banget).

Di luar narasumber ini bayaran atau tidak, bisa saja hal demikian menjadi semacam pemakluman dan pembudayaan terhadap “pendosa-pendosa” lain. Sehingga perilaku yang sebenarnya menyimpang pun terus dilakukan. Sementara di sisi lain, hal ini juga bisa membuat wawasan penonton bertambah.

ADA POSITIFNYA

Untungnya narasumber pakar benar-benar jelas memberikan penyuluhan dengan gaya sederhana. Benar-benar pendidikan seks yang positif untuk orang dewasa. Dan mungkin akan membuat pelaku ONS sadar, setidaknya tahu konsekuensi menuruti hawa nafsu sesaat.

Cuma akan lebih sehat jika narasumber dibuat samar, mungkin pakai sejenis topeng meski kita tetap bisa melihat struktur wajahnya.

————-

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Galah Asin/Gobak Sodor, Permainan Anak-anak …

Bowo Bagus | | 15 September 2014 | 14:47

Punya Masalah Layanan BPJS hingga Keuangan? …

Ilyani Sudardjat | | 15 September 2014 | 11:44

Prostitusi dan Dominasi Turis Arab di …

Sahroha Lumbanraja | | 15 September 2014 | 13:02

Siapa Peduli Kesalahan Prasasti ASEAN di …

Syaripudin Zuhri | | 15 September 2014 | 11:54

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Buat Keju Sendiri Yuk …

Fidiawati | 7 jam lalu

Jokowi dan UU Pilkada Potret Kenegarawanan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Ahok Emang Cerdas Kwadrat …

Ifani | 9 jam lalu

Memahami Cinta, Pernikahan dan Kebahagiaan …

Cahyadi Takariawan | 10 jam lalu

Koalisi Pembodohan …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengapa Saya Memilih “Bike to …

Happy Indriyono | 8 jam lalu

Festival Film Bandung, SCTV, dan Deddy …

Panjaitan Johanes | 8 jam lalu

Masyarakat Ekonomi Asean 2015 …

R_syah | 8 jam lalu

Blusukan = Berunding dan Berdamai …

Blasius Mengkaka | 8 jam lalu

Ultah Ke-30, Pangeran Harry Merasa Masih …

Darren Wennars | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: