Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Taa

Pecinta Buku, Pemerhati agama, sosial, dan budaya

Program Pesbukers: Sapri, Jangan Sok Ganteng

OPINI | 13 March 2013 | 16:59 Dibaca: 2192   Komentar: 0   0

Pecinta Pesbukers yang terkasih….

Mari kita bicara soal Sapri. Figur berbadan tambun dan berkepala plonthos itu, seturut pengetahuan saya, seringkali tampil sebagai “obyek” yang disiram rambutnya dengan tepung. Saya tidak tahu, apa itu tepung benar-benar tepung, tepung beras, tepung terigu, atau bahan yang sejenis dan, tentu saja, tak membahayakan. Entah Olga, Jessica, atau Opik Kumis sendiri yang menyiram Sapri, adegan ini dimulai dengan lontaran pantun yang, biasanya, diucapkan Opik Kumis. Pantun? Mungkin bisa diperdebatkan. Kuping saya sendiri tak mendengar jelas bahwa lontaran kata-kata yang, biasanya, tersusun dari beberapa kalimat yang hanya sama di ujung kalimatnya itu, bisa disebut sebagai pantun atau bukan. Nantilah saya buka-buka lagi pelajaran buku tentang pantun saya dulu.

Apakah Sapri marah diperlakukan seperti itu?

O, tentu saja tidak. Kalau dia marah, tentu kita akan melihat adegan berantem (beneran) atau caci-maki Sapri on stage, dan bisa-bisa Pesbukers menjadi “ring tinju” alih-alih tayangan humor. Tentu pula saya tak tahu, bagaimana perasaan sebenarnya Sapri di belakang panggung.

Diam-diam, saya hanya bertanya pada diri saya sendiri: Apakah menciptakan humor harus dengan cara mengolok-olok?

Saya pun mendapat jawaban: Humor bisa dilakukan dengan berbagai cara. Dan cara yang, mungkin, paling mudah adalah anda mengolok-olok diri anda sendiri. Di atas cara yang paling mudah ini, anda dapat mengolok-olok lawan main anda.

Mengolok-olok diri sendiri, tentu saja, tak menimbulkan sakit hati. Kan aneh bila anda mengolok-olok diri anda sendiri agar anda merasa sakit hati sendiri! Lain halnya jika yang anda olok-olok itu adalah lawan main anda. Ini mengandung resiko. Dan resiko ini bisa meletup menjadi salah paham, caci-maki, dan berujung marah dan tak bisa menerima, bila ternyata lawan main anda terjebak pada situasi dimana olok-olok tadi berubah menjadi suatu bahasa yang ditanggapi secara serius. Citra, di mana cintra? Ingat, di jaman di mana pencitraan diri ini dihambur-hamburkan, dijunjung-junjung, salah paham bisa mudah terjadi, yang ujung-ujungnya saling menuntut dan membela diri; memperkarakan anda di hadapan hukum atas nama pencemaran nama baik!!

Setangkapan saya, hal yang “khas” dari program Pesbukers ini, adalah teknik humornya yang “dikuasai” teknik saling mengolok-olok. Dengan kata lain, humor dicipta dari olok-olokkan. Salahkah ini? O, tentu saja tidak. Apalagi, jika anda berbicara tentang hak.

Hanya saja, masih banyak teknik mencipta humor yang lain, yang sifatnya tidak mengolok-olok. Humor yang tercipta dari kecerdasan intelektual, dipadu dengan teknik-teknik gerakan tubuh, dibumbui dengan cerita singkat dan sederhana, bisa menjadi pilihan yang, menurut hemat saya, lebih baik dari humor olok-olokkan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 6 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 7 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 12 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: