Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Menghargai Tayangan Siaran Langsung di Layar Televisi

REP | 31 March 2013 | 02:00 Dibaca: 851   Komentar: 0   2

Photo : GuyLivingston.Com

Photo : GuyLivingston.Com

Sebenarnya saya datang ke RCTI bukan untuk menonton siaran langsung X Factor Indonesia secara langsung, tetapi untuk kepentingan lain. Tetapi ketika ditawari oleh produser acaranya untuk menonton langsung dan gratis pula, saya pikir ya kenapa tidak? Maka saya dan beberapa orang teman saya mendapat kesempatan menonton acara X Factor Indonesia dari bangku balkon barisan paling depan. Dari tempat saya menyaksikan acara sangat tampak jelas apa yang terjadi bawah sana, mulai dari panggung utama, meja juri dan barisan bangku penonton pendukung para kontestan. Dan jujur saja, saya lebih menikmati pertunjukan tehniknya daripada pertunjukan musiknya. Misalnya saya bolak-balik mengarahkan padangan ke arah panggung dan ke layar TV didepan saya untuk melihat kira-kira kamera yang mana yang sedang menyala untuk menghasilkan gambar yang lebih bagus atau artistik untuk pemirsa televisi dirumah.

Selama ini saya menyaksikan tayangan X Factor dari rumah melalui layar televisi. Jadi apa yang sudah tayang dilayar televisi sudah terlihat rapi dan serba beres. Namun pengalaman tadi malam menonton langsung acara yang disiarkan secara langsung ini, akhirnya saya bisa mengetahui betapa merepotkannya suasana yang selama ini tidak tampak dilayar televisi tersebut. Misalnya saat penonton sudah memadati bangku, Stage Manager harus putar otak untuk memikirkan bagaimana caranya agar penonton terlihat ‘hidup’. Maka berbagai simulasipun mulai dilatih kepada penonton, mulai dari cara bertepuk tangan yang riuh, cara menghasilkan jeritan yang heboh sampai menirukan ciri trade mark juri saat memanggil nama kontestan. Ini tentu penting, agar pas acara akan segera dimulai penonton sudah terbakar emosinya untuk memberi applaus yang tentu saja sangat diperlukan oleh acara seperti ini untuk menampilkan dan menghasilkan acara yang meriah dilayar televisi. Seandainya para penonton ini tadinya tidak latih, maka pada saat siaran langsung tayang di televisi, hasil yang diharapkan tentu tidak akan maksimal karena tepuk tangan atau pekikan penonton akan terdengar canggung atau mungkin kebablasan karena belum tau tepuk tangan dan jeritan yang seperti apa yang dibutuhkan. Belum lagi pada saat break iklan selama beberapa menit, Stage Manager kembali harus beraksi untuk mengisi kekosongan suasana demi menghindari kebosanan penonton atau mungkin yang lebih parah supaya tidak ada yang kesambet jin. Mulai dari menyuguhkan games atau memprovokasi pendukung masing-masing kontestan dalam hal jeritan siapa yang paling heboh.

Selain ‘menjinakkan’ penonton, ada juga kehebohan lain dari arah panggung utama. Beberapa detik sebelum kontestan muncul dilayar kaca, para kru heboh hilir mudik menyiapkan ini dan itu mulai dari properti panggung sampai mempersiapkan mike dan posisi berdiri sang kontestan. Misalnya Robby Purba mengalihkan perhatian kamera ke arah lain saat panggung utama sedang diporak-porandakan sejumlah kru untuk mempersiapkan setting panggung Mikha Angelo : sebuah grand piano dan lampu kedap-kedip yang gugusannya membentuk bulan sabit. Termasuk harpa yang didandani milik Maya Hasan yang bertugas menjadi musisi pendukung penampilan Mikha.

Atau saat Gede Bagus akan tampil, ketika sang mentor sudah memperkenalkan sang kontestan kepada para penonton, diatas panggung masih tampak beberapa kru menyeret sebuah sofa, karpet dan beberapa bantal empuk berwarna lembut. Dan pas detik terakhir Gede Bagus akan segara tampak dilayar televisi, semua kru sudah menghilang dan semua properti sudah tertata rapi. Begitu Gede Bagus menyelesaikan penampilannya dan mendapat komentar dari para juri, para kru kembali hiruk pikuk membenahi properti panggung dan menggantinya dengan properti yang berbeda untuk kontestan lain. Tentu saja hiruk pikuk ini tidak tampak dilayar televisi, karena ketika kehebohan itu sedang terjadi, kamera sedang mengambil gambar Robby Purba yang berdiri diarah yang sama sekali tidak memperlihatkan hiruk pikuk panggung.

Pada saat itu juga saya berpikir bahwa betapa banyak kerja keras yang suasana yang stressful yang harus dialami oleh beberapa kru untuk menghasilkan tontonan yang rapi dilayar televisi. Saya selama ini termasuk orang yang cerewet mengomentari apa yang tampak dilayar kaca saat sedang menonton televisi : kurang ini dan itu, terlalu ini dan itu dan lain-lain, termasuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikomentari. Tapi sejak tadi malam, mungkin akan ada yang berubah dalam sikap saya. Saya mungkin akan lebih menghargai apa yang tampak dilayar televisi saat sedang mempetontonkan sebuah pertunjukan diatas panggung, khususnya pertunjukan yang disiarkan secara langsung, karena saya sudah melihat sendiri kerja keras banyak orang untuk mempersembahkan tontonan yang rapi dan menarik untuk penonton televisi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kuliner: Dari Mesir ke Yordania Bersama …

Andre Jayaprana | | 20 September 2014 | 18:49

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Asian Games 2018, tantangan bagi Presiden …

Muhamad Kamaluddin | | 21 September 2014 | 04:34

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 5 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Pemberian Itu Bahasa Kasih …

Roy Soselisa | 7 jam lalu

Dosa Sarjana Ilmu Komunikasi (Media) …

Yons Achmad | 8 jam lalu

Jokowi: Pendidikan, Riset, dan Intelejen …

Ay_satriya Tinarbuk... | 8 jam lalu

Menggadaikan Wakil Rakyat …

Yustinus Sapto Hard... | 8 jam lalu

Keadilan untuk Orang Miskin vs Keadilan …

Jubir Darsun | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: