Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Kritik terhadap Tayangan Trans 7

OPINI | 04 April 2013 | 16:21 Dibaca: 2041   Komentar: 3   1

Dari beberapa tayangan di televisi swasta di Indonesia saya memang lebih menyukai tayangan acara-acara di Trans 7, karena selain menghibur, informatif ada beberapa acara yang memiliki pesan edukasi. Disamping itu di Trans 7 tidak ada satu pun tayangan berjudul SINETRON! Meski tidak semua acara yang ditayangkan bernilai informasi dan edukasi dan hanya bernilai hiburan semata. Disinilah saya ingin berbagi dengan para pembaca tentang kegelisahan saya pada beberapa tayangan di Trans 7.

Setiap pagi tepatnya pukul 6. 30 WIB Trans 7 menayangkan Khazanah sebuah acara favorit yang selalu saya tunggu-tunggu. Khazanah banyak mengupas banyak tentang keislaman dan seluk beluknya sebagai pencerahan, metode yang dipergunakan tim Khazanah Trans 7 menurut saya juga sangat menarik dengan menampilkan tayangan diselingi gambar-gambar hidup yang informatif. Berbeda dengan stasiun TV lain yang menayangkan metode tausiyah dan tanya jawab antara ulama dan pemirsa secara langsung. Meski nilai informasi yang disampaikan mungkin bermuatan sama, namun cara penyampaian seperti yang ditayangkan Khazanah Trans 7 menurut saya lebih menarik tanpa mengurangi nilai edukasi dan pesan yang disampaikan dari tiap episodenya. Namun demikian ada beberapa hal yang sangat bertentangan, pada pagi hari kita disuguhi tontonan berkualitas seperti Khazanah, tapi di malam hari (tepatnya tengah malam) Trans 7 menayangkan acara berbau mistis yang menurut saya bobot acara tersebut sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan Khazanah di pagi hari. Saya bukan pemerhati tapi saya hanya orang biasa yang mengisi waktu dipagi hari sebelum berangkat bekerja dengan menonton acara berkualitas dan malam hari pulang dari bekerja untuk melepas penat mencari hiburan salah satunya dari tayangan televisi.

Kenapa saya mengatakan tayangan itu bertolak belakang? Karena dalam tayangan Khazanah banyak mengupas tuntas tentang keimanan dan akhir-akhir ini banyak mengupas tentang kesyirikan dan larangan-larangan berbuat syirik sebagai dosa besar tanpa ampunan. Tapi di malam hari penonton disuguhi tayangan tentang alam mistis, ghaib dan hal yang berkaitan dengan sesuatu yang berbau horor. Muatan dari tayangan dua acara ini saja sudah berlainan, satu menasehati pemirsa untuk memperkuat keimanan dan menjauhkan diri dari menyekutukan Allah dengan berbuat syirik dan yang satu menggiring pemirsa dengan tayangan pada hal-hal yang menggerakkan hati untuk mempercayai tayangan tengah malam itu. Sehingga pemirsa menarik kesimpulan bahwa hal-hal ghaib dan mistis itu wajar adanya dan tidak mengganggu keimanan seseorang. Tayangan tengah malam ini mungkin tidak berpengaruh besar pada pemirsa yang sudah kuat iman dan menganggap tayangan itu hanya sekedar tontonan pengisi waktu, tapi bagaimana bagi para awam dan labil? Tidak semua pemirsa televisi di negeri ini adalah orang-orang kritis dan dapat memilah tayangan yang bermanfaat bagi diri dan keluarganya. Namun banyak bahkan mungkin sebagian besar orang awam yang menjadikan televisi dan segala tayangannya sebagai media hiburan satu-satunya dan pemirsa tipe ini bisa jadi memakan mentah-mentah semua tayangan tanpa menfilter terlebih dahulu.

Seharusnya Trans 7 sebagai televisi yang memang concern pada tayangan hiburan informatif dan tetap bermuatan edukasi harus jeli melihat hal-hal seperti ini. Edukasi dan hiburan adalah dua hal yang berbeda namun jika bisa disatukan dan membawa rakyat di negeri ini menjadi lebih cerdas dan berkualitas itu adalah sebuah langkah besar. Terlepas dari nilai komersil dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap program yang ditayangkan. Alangkah baik jika Trans 7 lebih memperhatikan arah dari setiap program acaranya. Dan bagi pemirsa televisi akan lebih bijaksana jika bisa memilih tayangan dan program televisi untuk dinikmati sebagai hiburan tapi disisi lain tidak merusak nilai-nilai kehidupan dan menggerus kepedulian terhadap lingkungan dan keyakinan dengan memakan mentah-mentah tayangan dan informasi lewat media digital ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelantikan Presiden Jokowi Menggema di …

Ely Yuliana | | 20 October 2014 | 20:18

Jokowi Jadi Cover Story Tabloid ChinaDaily …

Rahmat Hadi | | 20 October 2014 | 20:13

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Hampir Tertipu dengan ‘Ancaman’ Petugas …

Niko Simamora | | 20 October 2014 | 19:49

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 5 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 7 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 12 jam lalu

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 12 jam lalu

SBY Purna Tugas, Akun @SBYudhoyono Ikut …

Dody Kasman | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pelantikan Jokowi, Antara Prabowo, Narsis …

Rahab Ganendra 2 | 7 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 9 jam lalu

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | 10 jam lalu

Ekspresi Optimisme Indonesia dalam Pesta …

Suryani Amin | 10 jam lalu

Ahh, Setelah Euforia Ini, Aku Harus Bekerja …

Tjia Cn | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: