Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Kritik terhadap Tayangan Trans 7

OPINI | 04 April 2013 | 16:21 Dibaca: 2035   Komentar: 3   1

Dari beberapa tayangan di televisi swasta di Indonesia saya memang lebih menyukai tayangan acara-acara di Trans 7, karena selain menghibur, informatif ada beberapa acara yang memiliki pesan edukasi. Disamping itu di Trans 7 tidak ada satu pun tayangan berjudul SINETRON! Meski tidak semua acara yang ditayangkan bernilai informasi dan edukasi dan hanya bernilai hiburan semata. Disinilah saya ingin berbagi dengan para pembaca tentang kegelisahan saya pada beberapa tayangan di Trans 7.

Setiap pagi tepatnya pukul 6. 30 WIB Trans 7 menayangkan Khazanah sebuah acara favorit yang selalu saya tunggu-tunggu. Khazanah banyak mengupas banyak tentang keislaman dan seluk beluknya sebagai pencerahan, metode yang dipergunakan tim Khazanah Trans 7 menurut saya juga sangat menarik dengan menampilkan tayangan diselingi gambar-gambar hidup yang informatif. Berbeda dengan stasiun TV lain yang menayangkan metode tausiyah dan tanya jawab antara ulama dan pemirsa secara langsung. Meski nilai informasi yang disampaikan mungkin bermuatan sama, namun cara penyampaian seperti yang ditayangkan Khazanah Trans 7 menurut saya lebih menarik tanpa mengurangi nilai edukasi dan pesan yang disampaikan dari tiap episodenya. Namun demikian ada beberapa hal yang sangat bertentangan, pada pagi hari kita disuguhi tontonan berkualitas seperti Khazanah, tapi di malam hari (tepatnya tengah malam) Trans 7 menayangkan acara berbau mistis yang menurut saya bobot acara tersebut sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan Khazanah di pagi hari. Saya bukan pemerhati tapi saya hanya orang biasa yang mengisi waktu dipagi hari sebelum berangkat bekerja dengan menonton acara berkualitas dan malam hari pulang dari bekerja untuk melepas penat mencari hiburan salah satunya dari tayangan televisi.

Kenapa saya mengatakan tayangan itu bertolak belakang? Karena dalam tayangan Khazanah banyak mengupas tuntas tentang keimanan dan akhir-akhir ini banyak mengupas tentang kesyirikan dan larangan-larangan berbuat syirik sebagai dosa besar tanpa ampunan. Tapi di malam hari penonton disuguhi tayangan tentang alam mistis, ghaib dan hal yang berkaitan dengan sesuatu yang berbau horor. Muatan dari tayangan dua acara ini saja sudah berlainan, satu menasehati pemirsa untuk memperkuat keimanan dan menjauhkan diri dari menyekutukan Allah dengan berbuat syirik dan yang satu menggiring pemirsa dengan tayangan pada hal-hal yang menggerakkan hati untuk mempercayai tayangan tengah malam itu. Sehingga pemirsa menarik kesimpulan bahwa hal-hal ghaib dan mistis itu wajar adanya dan tidak mengganggu keimanan seseorang. Tayangan tengah malam ini mungkin tidak berpengaruh besar pada pemirsa yang sudah kuat iman dan menganggap tayangan itu hanya sekedar tontonan pengisi waktu, tapi bagaimana bagi para awam dan labil? Tidak semua pemirsa televisi di negeri ini adalah orang-orang kritis dan dapat memilah tayangan yang bermanfaat bagi diri dan keluarganya. Namun banyak bahkan mungkin sebagian besar orang awam yang menjadikan televisi dan segala tayangannya sebagai media hiburan satu-satunya dan pemirsa tipe ini bisa jadi memakan mentah-mentah semua tayangan tanpa menfilter terlebih dahulu.

Seharusnya Trans 7 sebagai televisi yang memang concern pada tayangan hiburan informatif dan tetap bermuatan edukasi harus jeli melihat hal-hal seperti ini. Edukasi dan hiburan adalah dua hal yang berbeda namun jika bisa disatukan dan membawa rakyat di negeri ini menjadi lebih cerdas dan berkualitas itu adalah sebuah langkah besar. Terlepas dari nilai komersil dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap program yang ditayangkan. Alangkah baik jika Trans 7 lebih memperhatikan arah dari setiap program acaranya. Dan bagi pemirsa televisi akan lebih bijaksana jika bisa memilih tayangan dan program televisi untuk dinikmati sebagai hiburan tapi disisi lain tidak merusak nilai-nilai kehidupan dan menggerus kepedulian terhadap lingkungan dan keyakinan dengan memakan mentah-mentah tayangan dan informasi lewat media digital ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

Ketika Institusi Pendidikan Jadi Ladang …

Muhammad | | 19 September 2014 | 17:46

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 6 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 6 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 9 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

“Calon Ibu Pejabat Galau di Negeri …

Rietsy | 8 jam lalu

Centang Prenong …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Duka Lara …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Taman Rekreasi Atau Kuburan? …

Rifqi Nur Fauzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: