Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Ilam Maolani

Alung Rawawis (Anak Galunggung dari Rawa Sindangraja), If wealth is lost, nothing is lost; If selengkapnya

Fatin Sang Juara: Memetik Hikmah

OPINI | 25 May 2013 | 02:10 Dibaca: 1243   Komentar: 12   3

“Ikan patin ikan sepat, kamu Fatin memang hebat.” Ikan patin penglipur lara, kamu Fatin pantas jadi Juara.” Luar biasa, amazing!. Tepat pukul 1 kurang 10 menit dini hari, memasuki hari Sabtu, 25 Mei 2013, akhirnya ajang pencarian bakat penyanyi terheboh X-Factor Indonesia season pertama dimenangkan oleh Fatin Sidqia Lubis. Hasil kolaborasi kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas antara Fatin dan Fatinistic-nya sangat menentukan perolehan SMS Fatin sehingga ia meraih the winner.

Dengan respon wajah yang ‘datar’ dan lugu, Fatin seakan tidak percaya begitu diumumkan sebagai pemenangnya. Sejenak Fatin kelihatan terkesima tidak bereaksi ‘apa-apa’, ia hanya senyum-senyum saja, mungkin dirinya tidak menyangka menjadi jawara, baru setelah Rosa dan Novita merangkulnya serta mengucapkan selamat, Fatin terlihat girang dan senang, bukan main bahagianya.

Sebagai juara pertama, Fatin berhak mendapatkan ‘seabreg’ hadiah, mulai dari uang ratusan juta rupiah, lalu sebuah mobil matic, sampai pada asuransi bersama runner up sebesar 1,5 miyar. Sebuah penghargaan yang terbilang ‘wah’ dan cukup ‘mewah’ bagi seorang Fatin.

Tanda-tanda keberhasilan Fatin menjadi juara agaknya sudah terlihat sejak Jum’at malam lalu (17 Mei 2013). Pada laga yang akan menentukan dua besar tersebut, perolehan SMS Fatin paling tinggi, sementara posisi Novita kedua dan NU Dimension ketiga. NU Dimension akhirnya tersisih, jadilah penghuni dua besar jatuh pada Fatin dan Novita.

Kesuksesan Fatin menjadi yang terbaik memberi pelajaran pada kita bahwa:

1. Melalui kebersamaan dan kekompakan ternyata suatu tujuan dapat tercapai. Betapa kebersamaan dan kekompakan antara Fatin dan Fatinistic menjadi bukti nyata yang telah membawa Fatin ke tangga juara.

2. Kesalahan itu tidak perlu disesali, justru harus diperbaiki dan dapat dijadikan pemicu dan pemacu  (trigger) untuk tampil lebih baik lagi di masa yang akan datang. Let’s by gone be by gone, qod maata maa maata, begitulah pepatah dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab yang artinya: yang lalu biarlah berlalu. Fatin pernah berbuat ‘salah’ berupa lupa lirik dan menyebabkan ia sempat menangis, tapi berkat ketegaran dan tekad yang bulat untuk memperbaikinya pada penampilan berikutnya, Fatin akhirnya tidak lupa lirik lagi dan menjelmalah ia sebagai seorang kampiun bernyanyi dalam X-Factor Indonesia.

3. Faktor usia tidaklah menjadi penghalang seseorang untuk meraih prestasi yang tinggi. Usia Fatin yang relatif yunior dibandingkan Novita yang sudah tergolong senior, mampu membukakan mata setiap manusia bahwa yunior itu tidak perlu gentar ketika berkompetisi dengan senior dalam hal kebaikan.

4. Pengalaman ternyata tidak selamanya menentukan terhadap kesuksesan seseorang. Latihan yang keras dan rutinlah yang menjadi faktor penentu. Pengalaman Fatin dalam bernyanyi yang dimulai dari ‘penyanyi kamar mandi’ ternyata mampu mengalahkan Novita yang sudah malang melintang dan telah banyak makan ‘asam garam’ dalam dunia menyanyi. Dengan latihan yang keras dan rutin, dipandu oleh pementor sekelas Rosa, Fatin mampu membuktikan bahwa pengalaman yang ‘minimalis’ dapat mengalahkan pengalaman yang ‘maksimalis’.

5. Setiap keberhasilan dalam hidup hendaknya patut disyukuri. Cara bersyukurnya dengan perbuatan yang tidak melampaui batas dan tidak berlebih-lebihan. Terlihat jelas ketika disebut sebagai juara, Fatin lantas tidak berjingkrak-jingkrak, ia merespon biasa-biasa saja tapi tetap menunjukkan kegembiraan dan kebahagiaan (catatan: tapi ada juga reaksi bukan dari Fatin, yang menurut penulis agak ‘risih’ dan patut disesalkan, yakni ketika Ahmad Dani dan teman-teman sesama finalis, terutama yang pria, mengucapkan selamat juara dengan cara memeluk atau merangkul badan Fatin, padahal mereka mestinya tahu Fatin seorang muslimah dan memakai kerudung, tentu harus membatasi diri untuk mengucapkan selamat).

6. Menjadi orang yang istiqomah (konsisten) akan mendapatkan kebahagiaan. The real fact is Fatin. Dengan keistiqomahannya ia memakai kerudung dari awal sampai akhir, bukan hanya ketika tampil di panggung, tetapi juga ketika di luar panggung, buah manis dari ketaatan Fatin terhadap ajaran agamanya ternyata menghasilkan kebahagiaan, berupa juara 1.

Akhirnya penulis berharap tidak henti-hentinya pada Fatin untuk selalu menyisihkan harta hasil jerih payahnya dalam bernyanyi digunakan pada kegiatan dan atau perbuatan yang positif dan bermanfaat, sebagai rasa syukur kepada Ilahi. Uang yang melimpah sebaiknya digunakan untuk membantu orangtua, saudara-saudaranya yang membutuhkan pertolongan, sebagian lagi ditabung guna meringankan biaya pendidikan dirinya di masa yang akan datang, dan tidak lupa pula tunaikan zakat/infaq/sedekahnya. BRAVO FATIN DAN FATINISTIC. TETAP RENDAH HATI YAH, KEEP YOUR SMILING…!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 11 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: