Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Ombrill

pengamat televisi dan dunia hiburan - penulis buku "Broadcast Undercover" - follow @ombrill

‘Program Basah’ di Dunia Televisi, Sumber ‘Rezeki’ di Luar Gaji

REP | 06 June 2013 | 08:20 Dibaca: 812   Komentar: 10   7

Suatu sore, teman saya mengeluh. Ada Produser yang ogah dipindah tugas, dari tugasnya pegang acara otomotif buat pegang acara lain. Si Produser minta alasan ke teman saya, kenapa ia harus dipindah, apa kesalahannya sehingga harus dipindah, dan sejuta alasan lain. Intinya, Produser yang termasuk senior ini ingin tetap pegang program otomotif.

Padahal gue kan pengen dia dikasih challenge baru. Masa Produser senior pegangnya satu program doang? Program magazine pula,” keluh teman saya.

Di dunia televisi, banyak Produser model Produser yang sedang saya ceritakan ini. Di stasiun televisi mana pun pasti ada. Analisa saya, ada tiga kemungkinan. Pertama, Produser senior model gini sudah males pindah-pindah ke program lain. Ia nyaman dengan alur kerja di program ini. Shooting, ngedit, program tayang. Shooting lagi, ngedit lagi, program tayang. Begitu seterusnya.

Alur kerja sudah membiasakan si Produser jadi malas pindah. Dengan alur kerja yang sudah terukur, maka waktunya buat melakukan aktivitas yang lain, misalnya pergi buat menjalankan hobinya atau bahkan side job (SJ) bisa ia lakukan. Nah, ini artinya, si Produser sudah masuk ke comfort zone alias zona nyaman. Nyaman dengan jabatannya, kedudukannya, dan kerjanya. Lebih jauh soal comfort zone nanti saya akan bahas di tulisan berikutnya ya.

Alasan kedua, kenapa Produser tidak mau dipindah ke program lain adalah karena program yang dipegang adalah ‘program basah’. Nah, tema ini bakal seru. Kemungkinan Anda bakal takjub begitu saya ceritakan ada istilah ‘program basah’. Jadi, kalo di perusahaan-perusahaan ada istilah ‘kursi basah’, ‘jabatan basah’, dan ‘basah-basah’ lainnya (kecuali ‘mandi basah’ lho), di dunia televisi ada istilah ‘program basah’. Apa itu gerangan?

‘Program basah’ adalah program yang diperuntukan bagi program-program yang bisa memberikan nilai lebih pada si Produser yang pegang program tersebut. Dalam konteks ini, nilai lebih yang dimaksud bukan ilmu atau pengalaman, tetapi lebih kepada duit, fulus, money, atau apalah bahasa lain. Maksudnya, si Produser bisa mengeruk keuntungan di luar gaji pokoknya lewat ‘program basah’ ini.

Tanpa perlu melakukan SJ, Produser pemegang ‘program basah’ bakal merasakan kenikmatan mendapatkan duit. Padahal duit itu barangkali bisa dikategorikan sebagai gratifikasi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggolongkan gratifikasi sebagai bentuk korupsi. Memang, gratifikasi cuma berlaku di kantor pemerintahan, tidak di kantor swasta kayak di stasiun televisi. Kalo gratifikasi diberlakukan juga di stasiun televisi swasta, pasti banyak yang berurusan dengan KPK.

Gratifikasi seperti apa yang didapat Produser di ‘program basah’? Banyak! Oleh karena saya sedang mengisahkan tentang Produser senior yang ogah dipindah dari program otomotif, maka saya akan jelaskan bentuk gratifikasinya. Kebetulan pas kerja di ANTV, maupun di tvOne, saya sempat sebentar pegang program otomotif. Bahkan waktu masih kerja di media cetak pernah beberapa kali meliput acara otomotif, maupun membahas tentang dunia otomotif.

Tiap liputan otomotif, saya selalu dikasih amplop oleh panitia. Isi amplop tersebut bukan surat ucapan terima kasih, tapi berisi duit. Sebelum liputan pun biasanya para wartawan dikasih amplop. Setahu saya mayoritas wartawan dikasih amplop, kecuali yang saya tahu wartawan Kompas. Soal wartawan amplop ini bakal saya bahas juga di tulisan mendatang.

Pada saat pegang program otomotif, saya seringkali diundang ke luar kota. Selain dapat uang perjalanan dinas, saya masih dapat tambahan ‘rezeki’ dari panitia berupa amplop berisi duit. Enak kan? Padahal, seluruh akomodasi sudah ditanggung panitia, mulai dari pesawat, hotel, maupun makan selama di luar kota. Apalagi gratifikasi lainnya? Saya diundang test drive kalo ada mobil baru dari perusahaan otomotif atau Agen Tungal Pemegang Merek (ATPM). Biasanya test drive dilakukan di lokasi tempat produk mobil tersebut melakukan tes drive, tetapi kadang test drive-nya sambil jalan-jalan. Misal, mobil Avanza mau di-test drive, para wartawan ngusulin ke pihak Toyota agar sekalian test drive-nya ke luar kota, dari kota A ke kota B, misalnya. Nah, selama pergi, si wartawan atau Produser dijamu layaknya VVIP. Ya, akomodasinya, ya amplopnya.

Mobil tes drive loe bawa pulang, bro?” tanya saya heran.

Keheranan saya tersebut, karena Produser bisa saja membawa mobil test drive buat keperluan pribadi, bisa pula ke kantor. Terus terang saya belum pernah melakukan ini, tetapi ini fakta. Produser saya pernah membawa mobil Mazda baru ke kantor, padahal itu mobil test drive. Ini saking dekatnya hubungan antara pihak Mazda dengan Produser saja.

Pantes tiap kali gue liat elo gonta-ganti mobil terus,” komentar saya. “Ternyata mobil-mobil itu mobil pinjaman ya?

Produser cenggengesan.

Produser yang pegang ‘program basah’ juga bisa curi-curi gambar dan liputan. Anda jangan mengira dalam televisi sebuah gambar itu tidak ada nilainya. Gambar atau shot, itu bisa dijadikan duit. Kalo ada gambar sebuah merek di dalam sebuah program, termasuk berita itu sebenarnya masuk kategori built in produk. Bisa jadi Produser kongkalikong dengan sebuah perusahaan, trus kerjasama juga dengan campers (kameraman) dan editor buat memasukkan gambar. Jadi gambar tersebut memang sengaja dimasukan. Jika tayang, si Produser bisa dapat ‘rezeki’.

Program-program yang ada banyak paket liputan juga demikian. Meski sebuah event tidak punya news value atau nilai berita, tetapi karena Produser pengen dapat ‘rezeki’ dari si penyelenggara event, dengan berbagai cara si Produser menyelipkan liputan event yang tidak penting itu. Ini juga terjadi di program otomotif atau program berita yang kebetulan ada segmen otomotifnya. Nah, program liputan model gini bisa disebut sebagai ‘program basah’.

Sebenarnya masih banyak ‘program-program basah’ lain, termasuk trik-trik Produser menyelipkan liputan, gambar, atau apa saja agar bisa mendapatkan ‘rezeki’. Makanya, saya tersenyum saat teman saya mengeluh soal Produser senior yang ogah dipindah dari program otomotif. Siapa sih yang mau dipindah dari zona ‘program basah’ ke ‘program kering’ alias miskin ‘rezeki’?

Mas tolong deh disisipin ke program yang mas pegang sekarang,” tawar seorang Bos pemilik produk pembuat mobil jadi kinclong pada saya.

Maaf pak, nggak bisa,” ujar saya menolak godaaan ‘rezeki’. “Nanti saya kenalkan dengan pihak marketing ya pak. Nggak enak kalo gambar produk bapak tiba-tiba muncul di berita, trus ada yang ngeliat, bisa berbahaya.”

Salam rezeki!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Latahnya Pedagang Kaki Lima …

Agung Han | | 17 September 2014 | 04:16

Polemik Kabinet Jokowi-JK …

Mike Reyssent | | 17 September 2014 | 05:05

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 10 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 12 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 14 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 14 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Oh…Tidak, Gas Pertamina Non-Subsidi …

Ronald Haloho | 12 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 12 jam lalu

Gol Pinalti Gerrard di Injury Time Bawa …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Mengapa Nama Tegar …

Much. Khoiri | 12 jam lalu

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: