Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Ombrill

pengamat televisi dan dunia hiburan - penulis buku "Broadcast Undercover" - follow @ombrill

Sinetron Religi Setengah Hati

REP | 22 June 2013 | 16:09 Dibaca: 1917   Komentar: 16   13

Beberapa waktu lalu, Organisasi Masyarakat Televisi Sehat Indonesia (MTSI) mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menegur stasiun televisi, yang menayangkan sinetron merendahkan simbol agama tertentu. Menurut pembina MTSI Fahira Idris, tayangan sinetron tersebut telah memunculkan persepsi buruk tentang tokoh panutan dalam agama Islam. Beberapa sinetron yang diduga merendahkan simbol agama, yakni Haji Medit (SCTV), Islam KTP (SCTV), Tukang Bubur Naik Haji (RCTI), dan Ustad Foto Kopi (SCTV).

Menurut bintang sinetron, Sutradara, dan scriptwriter Diky Chandra, sejarah mejamurnya sinetron bertema religi belakangan ini berawal dari kesuksesan Rahasia Ilahi (Televisi Pendidikan Indonesia/ TPI) yang ditayangkan pada 2007-2008. Rating sinetron yang ide ceritanya lebih banyak diadopsi dari Majalah Hidayah ini sangat bagus. Kesuksesan ini membuat TPI kembali memunculkan sinetron religi lain, yakni KehendakMu, dan juga sukses.

Kesuksesan Rahasia Ilahi langsung dicontoh oleh sejumlah stasiun televisi. Indosiar membuat Di Balik Kuasa Illahi, Hanya Tuhan Yang Tahu, dan Titipan Ilahi. Lalu SCTV baru ada dua sinetron religi, yakni Astagfitrullah dan Kuasa Illahi. TV7 (sebelum namanya berganti menjadi Trans 7) memproduksi sinetron Hidayah dan Titik Nadir. Sementara Trans memiliki sinetron Taubat, Insyaf, dan Istigfar. RCTI yang kini banyak memiliki sinetron religi, saat itu baru memiliki satu sinetron religi, yakni Tuhan Ada Dimana-mana. ANTV menayangkan Azab Dunia dan Jalan ke Surga. Terakhir, Lativi (sebelum dibeli oleh Bakrie Group dan berubah menjadi tvOne) sempat menayangkan sinetron religi mistis, judulnya Adzab Illahi, Padamu Ya Rabb, dan Sebuah Kesaksian.

Menjamurnya sinetron religi-mistis tak lain berdasarkan kesuksesan sejumlah program acara reality show mistis, antara lain Dunia Lain dan Uji Nyali yang ditayangkan di Trans TV. Lalu di TPI ada Uka-Uka dan Ihh Seremm. Ekspedisi Alam Gaib, Penampakan (TV 7); Pemburu Hantu (Lativi); dan Percaya Nggak Percaya dan Di Balik Pesugihan (ANTV). Dari kesuksesan acara-acara itulah, muncul gagasan membuat sinetron bernafas relegi, tetapi tidak meninggalkan unsur mistis.

Lambat laun, Rahasia Ilahi semakin terjebak ke arah misteri dan jauh dari unsur religinya. Hal itu menimbulkan protes sana-sini. Guna “memperbaiki citra” sinetron tersebut, TPI memproduksi sinetron Takdir Ilahi yang digarap tanpa unsur mistik. Sayang seribu kali sayang, sinetron ini tetapi tidak laku. Aa Gym kemudian membuat sinetron Jagalah Hati. Nasib sinetron milik pimpinan ini pun ke laut alias tidak laku.

Sinetron bertema religi yang masih “patuh” dengan dominasi kisah religinya baru Para Pencari Tahun garapan Dedy Mizwar. Pria yang kini tercatat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar) ini sejak awal memang konsisten dengan content religi yang kental. Hal ini ia lakukan sejak sinetron Hikayat Pengembara, Lorong Waktu, dan Kiamat Sudah Dekat.

“Kepatuhan ” Dedy Mizwar pada tema sinetron religi, berangkat dari kegalauannya dalam menjalankan agama. Konsep Para Pencari Tuhan berawalnya lantaran banyak orang Islam yang menuhankan istri, anak, harta, tahta, dan lain-lain. Berbeda dengan konsep sinetron-sinetron religi yang banyak beredar saat ini. Religi sekadar tempelan.

Religi hanya sebagai tempelan inilah yang saya istilahkan setengah hati. Tidak serius. Sekadar menampilkan simbol-simbol Islam, secara vulgar memperlihatkan kewajiban ritual Islam, seperti sholat, wudhu, atau membaca al-Qur’an. Setting-nya banyak di masjid, kostum pemainnya peci, baju koko, dan untuk muslim mengenakan jilbab. Namun, alur cerita, dialog, dan karakter mayoritas pemainnya tidak mencerminkan religi. Belakangan, selain Para Pencari Tuhan, ada sinetron religi yang juga berangkat dari konsep kegalauan dalam praktek mejalankan agama. Judulnya Pengen Jadi Orang Bener. Sayang, penayangan sinetron ini subuh, yakni pukul 03:30 wib. Padahal konsep sinetron ini luar biasa, yakni berdasarkan banyaknya keributan perdebatan akan kebenaran yang muncul dari lahirnya orang pintar yang merasa benar, padahal kebenaran hanya milik Allah swt.

Diky membenarkan, banyak Produser dari production house (PH) yang bukan orang muslim, sehingga tidak mengerti masalah dalam dunia Islam. Kalo pun ada dari kalangan muslim, mereka tidak mendalami. Tak heran, Produser seringkali bentrok dengan unsur komersil. Mereka sekadar memanfaatkan tema religi. Hilman Hariwijaya mengamini apa yang dikisahkan Diky. Tetapi, untuk menjaga unsur religi, Hilman punya siasat. Pria yang dikenal sebagai penulis novel Lupus ini merekrut scriptwriter yang menguasai soal religi.

Ia (baca: scriptwriter) yang mengecek mana yang bisa atau nggak bisa dimasukkan unsur religi, dan memasukkan muatan-muatan islami atau tausyiah,” papar Hilman.

Para Produser PH mencari penulis instan yang siap membuat skenario sinetron stripping (baca: ditayangkan setiap hari, biasanya Senin sampai Jum’at), kru yang siap stripping. Meski stripping, mereka siap dibayar murah. Sebab, para Produser PH ingin menekan production cost (biaya produksi), sehingga dana yang besar mereka salurkan ke bintang sinetron yang harganya selangit. Harap maklum, stasiun televisi melihat siapa bintang sinetron tersebut.

Sekadar info, saat ini pasaran jual sinetron sekitar Rp 200 juta sampai Rp 250 juta per episode. Kalo harga sinetron stripping bahkan bisa di bawah Rp 200 juta perak. Harga sinetron Para Pencari Tuhan sekitar Rp 300 jutaan. Namun, harga sinetron religi FTV (sinetron lepasan) beda lagi, bisa mencapai Rp 400 juta- Rp 500 juta. Nah, tingginya harga dipengaruhi oleh bintang-bintang sinetron yang main di sinetron tersebut. Semakin ngetop, semakin mahal harga jualnya.

Peleburan antara tontonan (komedi) dan tuntunan (dakwah) seringkali dipengaruhi stasiun televisi yang cenderung minta main di tontonan,” ujar Diky.

Tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Semua ditentukan oleh stasiun televisi dan Produser PH bersangkutan. Kalo di industri PH, Sutradara ibarat robot, begitu pula scriptwriter. Memang berat bagi scriptwriter menulis, karena selain mengolah alur cerita agar ceritanya menarik, tetapi mereka harus memasukkan unsur religi. Jadi, scriptwriter berlatar belakang muslim saja tidak cukup, karena harus paham betul strategi dakwah di televisi.

Yakni mengkombinasikan kebutuhan tontonan tanpa menghilangkan kewajiban memberi tuntunan,” kata Diky.

Yang jagoan soal tema-tema itu sih duet penulis dan sutradara Imam Tantowi dan Chairul Umam,” tambah Hilman.

Strategi dakwah di televisi itulah yang membuat scriptwriter juga sering berbenturan dengan Produser. Scriptwriter yang membuat cerita tidak bisa memaksakan kehendak pasar sepenuhnya, karena ada tanggungjawab moral. Tetapi mereka pun ternyata harus bisa menyesuaikan selera pasar. Dulu, Helmi Adam yang berlatar belakang sarjana agama, dibantu oleh Ustadz Subki, bikin sinetron Panggil Gue Haji. Sayang, sinetron ini gagal. Kalah “perang” dan tersingkir dari jagat sinetron religi.

Selain dengan Produser, scriptwriter juga kerap berbenturan dengan artis yang schedule-nya padat dan suka ada permintaan dadakan dari stasiun televisi. Maksudnya, stasiun televisi mengintervensi pemilik PH agar menampilkan artis ini-itu agar tontonan menarik dan dapat rating. Sementara pemilik PH menekan scriptwriter.

Tontonan, atas perintah stasiun televisi agar disukai penonton dan dapat rating, umumnya punya kriteria popularitas pemain, kecantikan, dan unsur komedi. Sementara idealisme, mulai dari content sinetron religi tersebut, shot, dan lain-lain, tidak perlu diperhatikan. Yang penting, selama masih standar broadcast, maju terus. Selama rating ok, tak perlu memaksakan lebih banyak tuntunan dalam sinetron religi.

Mengapa sinetron-sinetron religi tidak seperti Para Pencari Tuhan?

Sebab, saat ini PH “pemain” sinetron religi memang itu-itu saja, yakni MD, Screenplay, dan Sinemart. Ada juga sih stasiun televisi yang mencoba in-house production atau memproduksi sinetron sendiri, yakni Trans TV. Kabarnya 90% sinetron Trans TV in-house, meski mayoritas SDM-nya outsource alias bukan karyawan tetap Trans TV. Tetapi itu pun tidak membuat sinetron religi jadi “bergigi”. Nah, oleh karena “pemain-pemain” itu-itu saja, Anda tidak bisa berharap banyak, sinetron religi tidak setengah hati. Muatan tuntunannya lebih dominan ketimbang tontonan, sebagaimana Para Pencari Tuhan sudah lakukan dan sukses. Saya menebak, di bulan Ramadhan nanti, tak ada perubahan signifikan dari segi content di sinetron-sinetron religi yang akan ditayangkan.

Salam religi!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membatik di Atas Kue Bolu bersama Chef Helen …

Eariyanti | | 02 October 2014 | 21:38

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Lidia Putri | | 02 October 2014 | 18:06

Nasib PNPM Mandiri di Pemerintahan Jokowi …

Ali Yasin | | 02 October 2014 | 10:05

Teror Annabelle, Tak Sehoror The Conjuring …

Sahroha Lumbanraja | | 02 October 2014 | 16:18

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Emak-emak Indonesia yang Salah Kaprah! …

Seneng Utami | 8 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Dahsyatnya Ceu Popong! …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gara-gara Incest di Jerman, Nginap di Hotel …

Gaganawati | 7 jam lalu

Usul Gw kepada Anggota Dewan …

Bhre | 7 jam lalu

PKC # 3: Kekasih Baru …

Ervipi | 7 jam lalu

Ini Baru #Shame On You# Jika PSC Off Ticket …

Aprindah Jh | 8 jam lalu

Negeriku Tercabik …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: