Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Acara Lawakan Tv

OPINI | 14 July 2013 | 15:58 Dibaca: 962   Komentar: 17   4

Membicarakan acara lawak stasiun tv mungkin yang terlintas di otak kita adalah olga atau ovj (kecuali yang kesehariannya melihat berita mulu pasti kpk atau pks yang terlintas :D).

Semua ada masanya, dan semua ada bintangnya.

Masa-masa dulu kita mengenal Warkop DKI yang lawakannya biasa dalam bentuk film.Kemudian ada juga Srimulat yang membuat perut serasa dikocok dengan lawakan-lawakannya kala itu.

Masa pun berganti, muncullah extra vagansa yang terkesan gemerlap dan membuktikan bahwa lawakan tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang jelek( Kalau anda mengaku ganteng tetapi tidak menjadi artis itu berarti hanya aku-akuan saja, sedangkan kalau anda mengaku jelek tetapi tidak mejadi pelawak itu membuktika anda tidaklah jelek. Berarti kita adalah makhluk antara ganteng dan jelek :D, emang ada?).

Masa terus berjalan, ektrava ganza pun ikut berguguran bak daun di musim kemarau. Kini lawakan tidak identik dengan panggung (maksud panggung disini adalah lawakan yang ada cerita narasinya seperti ovj, srimulat maupun pesbuker), Keluarlah Tukul dengan slogan Katroknya.

Ada pula Radiya Dika yang menggunkan media penulisan dalam lawakanya, kendati kini telah merambah film layaknya Warkop DKI (mungkin waktu kembali lagi yah).

Sampailah pada kita saat ini antara OVJ dan Olga yang tergolong sukses.Walau acara Tukul masih ada (eh masih ada ngak sih?) tapi peminatnya tidaklah sebanyak Ovj maupun pesbuker.

Antara suka dan tidak suka

Mungkin yang selalu disorot adalah Olga dengan gaya feminimnya, tetapi mengapa justru olga setiap hari malah nongol di tv.Tenu saja jawabannya simple, Olga juga memiliki pecintanya sendiri.

Berbicara masalah feminim, acara lawakan terasa tanpa bumbu,hambar jika tidak ada mereka.Memang tradisi cowok feminim dalam lawakan sangat lekat seolah menjadi tradisi.

Memang tidak bisa dipungkiri, lawakan dengan penampilan banci selalu mengundang gelak tawa.Adegan kaku yang dieragakan akan semakin membuat para penonton eggan menutup mulut.

Kritikan dan sindiran akan selalu terjadi, semisal dalam Ovj memperagakan kekerasan.Begitu pula acara lainnya, jika berhasil meraih hati pemirsa akan timbul kritikan, sindiran bahakan cemoohan.

Dalam lawakan tulisan juga idak luput hal itu.Contohnya lawakannya Raditya Dika.

“Cerita yang menceritakan orang bodoh saja best seller. Sementara karya-karya sastra yang memberikan pelajaran dan pembelajaran di sentuh saja tidak.”

Yah itu semua kembali ke diri masing-masing. Ada yang suka soto ada pula yang suka sate. Jika sudah bosan tentu ganti menu adalah pilihan.

Semua itu ada masanya,adapun jika pelaku kelewatan dalam lawakan biasanya juga akan di demo atau kena tuntut. So buat apa kita habiskan waktu tidak menyukai seseorang karena semua juga ada masanya, enjoyyy ajaaa :D

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: