Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Arsyica

Ibu Rumah Tangga

Sisi Lain Ustad Solmed

OPINI | 06 August 2013 | 07:58 Dibaca: 2236   Komentar: 8   2

13757503921002543487

www.kapanlagi.com

Sudah banyak teman-teman kompasianer yang menulis tentang ustad controversial yang satu ini, ustad Sholeh Mahmud alias Ustad Solmed. Dan kebanyakan tentang kenegatifannya. Beberapa teman bahkan menjulukinya sebagai ustad selebriti karena sering keluar masuk acara infotainment di televisi. Saya sendiri sih kurang mengikuti sepak terjang Ustad Solmed di televisi, dan lebih banyak mengikutinya dari tulisan di kompasiana.

Sebenarnya kesan awal saya terhadap ustad satu ini adalah kesan yang baik. Tetapi begitu membaca tulisan-tulisan yang ada, saya jadi berpikir ulang, kira-kira apa yang salah dengan ustad Solmed sehingga banyak penulis kompasiana atau tentu saja sebagai pemirsa televisi kog kurang menyukai nya. Sedangkan disisi lain, televisi masih memfavoritkan dan masih sering memakai Ustad Solmed untuk mengisi acara di televisi.

Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, saya kurang mengikuti sepak terjang Ustad Solmed ini, saya cuma tau dia sering mengisi tauziah yang diadakan televisi. Berhubung saya jarang nonton televisi, terutama acara infotainment jadi saya juga kurang mengetahui seluk beluk gossip yang menimpa ustad Solmed.

‘Perkenalan’ saya lebih mendalam dengan Ustad Solmed adalah ketika dengan tidak sengaja saya mendengarkan acara di sebuah radio swasta, ini terjadi kurang lebih satu tahun yang lalu. Kebetulan acara di radio itu adalah Salah Sambung yang dipandu oleh penyiar kocak TJ dan Kemal. Salah Sambung ini adalah acara yang tujuannya mengerjai orang dengan cara menelpon sikorban dengan seolah-olah korban telah membuat kesalahan, dan pada akhir telpon akan dikasih tau kalau ternyata si penelepon salah sambung dan masuk acara radio. Disitu lah letak kelucuan acara ini.

Pada saat saya mendengarkan acara itu, yang menjadi korban salah sambung adalah Ustad Solmed. Intinya, ustad solmed di undang mendadak oleh ibu-ibu pengajian untuk memberikan tauziah pada acara yang diadakan oleh ibu-ibu pengajian itu, yang berada di salah satu daerah di Jakarta. Tentu saja, karena tidak ada schedule atau perjanjian sebelumnya, ustad solmed dengan logat khas betawi menolak dengan halus undangan itu.

Tetapi dengan piawainya, TJ sebagai penelepon, memancing emosi ustad solmed. Dia bilang ustad solmed sudang ingkar janji, padahal acara sudah matang dan sebagainya dan sebagainya. Yang membuat saya kagum Ustad Solmed tidak terpancing emosinya, dia tetap melayani dan menjawab semua tuduhan TJ itu dengan tenang dan dengan becandaan khas dia.

Akhirnya Ustad Solmed pun mengalah dan mau menghadiri untuk member tauziah pada acara ibu-ibu pengajian tadi. Tetapi ternyata tidak berhenti disitu saja TJ mengerjai ustad solmed. Seolah-olah sudah tertuang dalam perjanjian, TJ meminta juga grup rebana pimpinan Ustad solmed untuk sekalian tampil diacara itu.

Disini benar-benar kesabaran ustad solmed diuji, karena selain meminta satu paket yaitu ustad solmed plus grup rebananya, TJ pun menjelaskan bahwa sesuai perjanjian sebelumnya (seolah-olah sudah ada perjanjian) untuk acara kali ini  pihak ibu-ibu tidak mengeluarkan biaya alias gratis. Dan hanya dibayar makanan yang sudah dimasakin ibu-ibu pengajian khusus untuk ustad dan rombongannya.

Singkat kata ustad solmed memenuhi semua permintaan dari TJ, tetapi di setiap dialog per telpon itu, tidak sekalipun dia terpancing untuk marah-marah dan tidak merasa sedang dikerjain. Dan seperti biasa bila sudah berhasil ngerjain korbannya baru dikasih tau kalau telpon itu salah sambung.

Dari hasil ‘perkenalan’ sepintas dengan Ustad Solmed ini saya pada waktu itu menyimpulkan bahwa dia ini termasuk orang yang santun dan tidak mudah tersulut emosinya. Selain itu ternyata dia tidak mematok harga untuk mengundangnya.

Akhir kata saya hanya bisa bergumam bahwa ustad adalah juga manusia biasa, tempatnya salah dan lupa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 3 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 4 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 4 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

So-SIAL Media: Interaksi tanpa Intonasi …

Zulkifli Taher | 8 jam lalu

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 8 jam lalu

Hak Prerogatif Presiden dan Wakil Presiden, …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kebohongan Itu Slalu Ada! …

Wira Dharma Purwalo... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: