Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Muslim Vs Muslim di Tayangan Debat TV One

OPINI | 04 September 2013 | 19:45 Dibaca: 2446   Komentar: 39   7

PADA 2 September kemarin, TV One kembali menayangkan acara DEBAT dengan tema “Miss World Datang dan Ditentang”. Saya bukan penikmat tayangan TV. Tapi sudah menontonnya via youtube. Yang ‘menarik’ narasumbernya datang dari kalangan muslim -lebih tepatnya (juga) berpenampilan muslim (sebab yang perempuan berjilbab).

Acara Debat.
Acara Gestur

Pihak kontra MW tentu saja dan lagi-lagi melulu kemeja peci :D Dan yang kontra ternyata perempuan berhijab dan satu lagi pria dengan gaya Islami. tentu tidak ada yang salah dengan hal ini.

Sebelumnya, di stasiun TV yang sama (entah tayang tanggal berapa karena saya juga nonton via youtube), ada tayangan bernama Gestur yang juga membahas perkara MW. Narasumber yang didatangkan ada empat. Satu dari salah satu perwakilan Indonesia untuk MW 2007 yakni Kamidia Radisti, satu pria berpeci yang merupakan budayawan bernama  Kong Ridwan (yang berpeci dan bergaya nyentrik), dari Ibu Anti salah satu panitia MW (dia berhijab), dan juga yang kontra bernama Ismail, perwakilan HTI (yang berpeci dan berkacamata Islam).

Kamidia Radisti, lulusan Unpad, asal Bandung.
Public Speaking-nya bagus dan jawabannya lugas.
Kalau Miss Universe punya Artika Saridevi, maka MW
punya Kamidia. :)
Puyeng ya, Om? :D

Melihat tayangan ini memang membuat adrenalin tersendiri bagi penonton. Bagaimanapun penonton akan berpihak pada salah satu kubu. Kecuali mungkin penonton yang skeptis/abstain. Yang menarik adalah ketika kalangan perempuan berhijab ini disindir oleh salah seorang narasumber karena katakanlah ‘tidak mematuhi’ syariat Islam.


Islam Moderat dan Islam Orthodoks

Dalam kacamata saya yang minus tiga sekaligus awam, kelompok muslim di Tanah Air ini dibagi menjadi dua. Yang satu muslim modern dan demokratis. Yang kedua muslim orthodoks, ‘radikal’, dan terkesan ‘memaksa’.

Saya termasuk ke mana? Ya, demokrat dong. Wong masih suka ngikutin Mis misan dan lagu-lagu Kpop dan barat. Kelompok yang dinamakan FPI dan sejenisnya itu boleh dibilang ‘kolot’ dan tingkah mereka yang terekam media amat bikin kita risih. Senggaknya buat saya dan sebagian orang.

Sampai-sampai FPI hater caci maki dengan nada yang sama. Kalau kita komennya sarkastik, apa bedanya dong, ’sama mereka’? Sebenarnya keberadaan Ormas maupun MUI tentu saja baik untuk mengingatkan sesama muslim. Tapi mereka -terutama FPI bertindak seakan-akan RI ini diisi sama orang Islam semua. Ini kan lucu banget. :D

Sampai-sampai temen noni (non-Islam) saya nyeletuk, “itu sesama Islam kok, gontok-gontokan gitu sih?’ Ya, saya bilang aja kalau ada muslim yang ‘begitu’ dan ada yang ‘tidak begitu’. :D

Argumen Seorang perempuan Muslimah Moderat

Anti dalam tayangan Gestur berkata saat Ismail berargumen dan mengesankan bahwa Anti adalah pribadi muslimah yang ‘keliru’. Anti pun berkata bahwa keberadaannya di acara tersebut bukan sebagai pribadi, melainkan panitia MW. Dia juga bersyukur bahwa lahir di negara demokrasi seperti RI, yang seharusnya saling menghargai antar agama, suku, dan adat istiadat.

Sementara narasumber ibu-ibu berhijab merah dalam Debat berkata saat salah seorang narasumber kontra MW, mengatakan bahwa ada salah satu pemenang MW yang jadi bintang porno. Ibu itu berkata untuk tidak men-generalisasi suatu kasus. Karena hal itu (menjadi bintang porno) bisa berlaku untuk orang lain/profesi lain/siapa saja.

Intinya, para perempuan ini ‘berhasil’ memberikan pandangan modern. Dan ini cerminan bagi sebagian perempuan berhijab di luar sana, kok.

Lantas seberapa perlu bahas mereka ini berhijab dan tidak berhijab? Ya, semua itu kan berasal dari PERTANYAAN DASAR dalam diri saya dan orang lain. PERTANYAAN DASARNYA apa? :D

Kenapa narasumber yang pro MW itu kalangan muslimah dengan atribut keislaman/jilbab. Atau lelaki berpakaian rapi dan berpeci.

Jawabannya simpel saja. Dan ini bisa dipaparkan sebagai berikut:

1. Untuk menujukkan pada masyarakat bahwa ada sekelompok muslim yang mendukung MW dan merupakan usaha agar MW tidak jadi polemik negatif lagi di media/masyarakat.

2. Menunjukkan bahwa tak semua orang Islam itu ‘anarkis kayak FPI’. Bahwa ada yang setuju dengan MW asal disesuaikan dengan norma ketimuran.

3. Perempuan yang berhijab itu dijadikan salah satu panitia oleh MNC atau Miss World Organization, juga agar masyarakat muslim lebih/supaya pro dengan penyelenggaraan MW.

4. Selain sempat mendatangi ‘markas’ Trans Group, pihak MNC juga sempat mendatangi markas TV One, semata agar lebih mempromosikan MW kepada Indonesia. Bahwa MW memang bukan acaranya MNC, tapi global. Trans sudah mengambil sikap untuk mendukung,meski entahlah dengan sejenis liputan MW atau sejenisnya. Tv One pun mendukung, dan untuk stasiun TV news ini mungkin pada akhirnya ’sengaja’ mendatangkan narasumber yang ke-Islam-an agar masyarakat banyak mendukung MW.


Saat Sesama Muslim “Gontok-Gontokan” di Acara Debat TV One

Mungkin buat sebagian orang, menyaksikan sesama muslim (dengan atribut ke-Islaman) saling adu pendapat dengan tema yang ’sensitif’, bisa menjadi pemandangan yang mengganggu. Seakan-akan yang mendukung MW adalah muslim yang tak taat sementara yang mengutuk MW adalah taat.

Ada beberapa hal yang sangat lucu sekaligus ngenes sendiri kalau lihat ulah FPI dan ormas sejenisnya. Atau narasumber yang bersangkutan. Biasanya mereka tidak punya bisa mengatur emosi/amarah mereka. Ini kan ‘memalukan’. Bukankah Muslim itu harus sabar?

Sepengamatan saya, narasumber ‘kolot’ yang berlatar ‘muslim taat’ ini kerapkali terlihat kurang menyenangkan saat diajak debat. Ya, meskipun banyak orang yang mampu melakukan hal sama tanpa atribut agama apapun. Tapi hal ini memberi kesan ‘tidak/kurang’ baik pada agama yang dibawanya. Apa saja?

1. Memotong pembicaraan. Kegeraman membuat mereka harus memotong ucapan dan bicara tanpa dipersilakan.

2.Main tunjuk. Di Indonesia itu sangat tidak sopan. Seakan-akan sedang menceramahi seorang anak ‘tak bermoral’ :D

3. Terlalu banyak yang ingin mereka sampaikan sehingga tidak mau mengikuti aturan main pihak televisi. Semisal durasi atau jeda iklan. Mereka akan berhenti kemudian dan kemudian menerima ‘apa adanya’.

4. Menyiram narasumber lain dengan air teh. Yang ini mah udah tahu kan siapa? :D

Intinya sih simpel aja. Kalau kita sudah mengingatkan sesama muslim, maka gugurlah kewajiban kita. Misalkan di Malaysia, mereka punya peraturan sendiri-sendiri. Kontestan ke Miss World atau Miss Universe misalnya, Malaysia tak memperkenankan kalangan muslim untuk mengikutinya. Bahkan di ajang MW yang jelas-jelas tak berbikini, wanita muslim sempat ikutan di kontes Miss Malaysia World, tapi pada akhirna pemerintah melarang. Malaysia juga tegas menindaklanjut pelecehan agama. Misalnya saat dua blogger koplak pada ramadan lalu meleluconi buka puasa dengan foto sedang menyantap daging babi, maka sepasang kekasih itu kena penjara.

Tapi di sini,  yang terjadi .. seakan-akan MW ini ajang kumpul kebo atau seks bebas -dengan apa yang FPI dan sejenisnya ini bilang sebagai ajang maksiat. Ini yang kalangan kolot juga sesungguhnya sadar mereka tidak berdiri di negara Islam. Buktinya MUI cuma kasih SIKAP, bukan fatwa HARAM. Jadi tindakan mau kasih kecoak atau tai ke hotel karantina di Bali sangat tidak Islami sekali. Apa-apaan.

Klisenya, apa kabar dengan artis-artis muslim kita yang berpenampilan seronok. Apa kabar pula dengan kasus korupsi Al-Qur’an di pemerintahan. Siapa yang sebenarnya tepat untuk dikasih tai? :3

*

FOTO: wanasedaju.blogspot.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 11 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Program ‘Haji Plus Plus’: Bisa …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Sampai Kapan Hukum Indonesia Mengecewakan …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

ISIS di Indonesia …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Sampai Kapan Polwan Dilarang Berjilbab? …

Salsabilla Hasna Mu... | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: