Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Wahyu Triasmara

Seorang manusia biasa kebetulan berprofesi dokter yang ingin berbagi cerita dalam keterbatasan & kesederhanaan.

Kecelakaan Maut “Dul” Anak Ahmad Dani

HL | 08 September 2013 | 10:41 Dibaca: 13612   Komentar: 56   36

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

(KOMPAS.com)

Lagi-lagi kecelakaan maut terjadi di Tol jagorawi yang ditengarai menewaskan 5 orang pengguna jalan dan menyebabkan 10 lainnya luka-luka. Diketahui dari sumber yang saya baca kecelakaan tersebut bermula ketika sebuah mobil sedan lancer yang berjalan melewati arah berlawanan setelah sebelumnya menabrak pembatas jalan memasuki jalur arah berlawanan dan menghantam mobil grand max dan avanza.

Kasus ini menjadi luar biasa karena dalam kecelakaan itu pengemudi mobil lancer tersebut ternyata adalah Abdul Qodir Jaelani (13 Thn) anak dari Ahmad Dhani, musisi sekaligus selebritis kenamaan Indonesia. Mengenai kronologis pasti kasus ini sendiri sampai sekarang masih simpang siur karena saat ini dul masih menjalani perawatan di RS Pondok indah jakarta.

Pada kesempatan kali ini sebagai dokter saya tidak akan membahas kronologi kecelakaan atau mengenai korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Tapi lebih dikaitkan pada psikologi anak dihubungkan dengan cara mendidik anak dan pengaruh tumbuh dewasa dalam keluarga broken home. Karena seperti kita tahu Kedua orang tua anak tersebut (Dhani dan Maia) bercerai pada beberapa tahun silam.

Ternyata tidak menjamin sebuah kebahagiaan, ketika popularitas, harta melimpah dapat membuat orang menjadi bahagia. Lihat saja bagaimana yang terjadi pada anak-anak ahmad dhani. Walaupun bisa dibilang semua kemauan dan keperluan mereka dipenuhi nyatanya tidak bisa membuat anak mereka bahagia seutuhnya.

Saya tidak mengenal secara langsung ahmad dhani, tapi dari beberapa tayangan infotainment terlihat bagaimana ahmad dhani mendidik anak-anaknya dengan penuh kebebasan. Bebas disini terlihat ahmad dhani tidak terlalu memikirkan kualitas pendidikan dasar anak-anaknya dan memilih mendidik mereka sesuai kemauan anaknya.

Bagaimana ceritanya anak usia 13 tahun sudah diijinkan untuk mengendarai mobil dijalan raya, sementara syarat untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM) saja salah satunya harus berusia diatas 17 tahun dan sudah mahir untuk mengemudikan mobil. Dibenarkan info dari Polda metro bahwa “Dul” diketahui memang belum memiliki SIM.

Kecelakaan yang terjadi pada waktu dini hari sekitar pukul 01.45 juga menimbulkan pertanyaan. Bagaimana bisa anak-anak seusia tersebut keluar tengah malam tanpa pendampingan dan pengawasan orang tua?Walaupun dia artis, orang tersohor, atau pun anak gaul ibu kota bukan jadi alasan seorang anak-anak bisa berkeluyuran bebas dimalam hari seperti itu.

Dari sana kita bisa menilai dampak lemahnya pengawasan orang tua, pada keluarga yang mengalami perceraian. Tidak pernah ada yang diuntungkan dari sebuah perceraian. Yang terjadi justru anak-anak menjadi korban karena kurangnya perhatian dan kasih sayang serta pengawasan orang tua yang sangat mereka butuhkan agar dapat tumbuh dewasa dengan baik.

Nyata-nyata uang tidak bisa membeli segalanya. Kebebasan yang diberikan Ahmad dhani pada anak-anaknya justru saya nilai menjadi bumerang bagi pembentukan akhlak dan moral anak-anak. Kebebasan yang tidak terbatas yang diberikan ahmad dhani guna menarik simpati anak-anak agar mau memilih hidup bersamanya membuat anak menjadi tidak mempunyai kontrol diri untuk dapat hidup teratur dan disiplin.

Dalam kasus kecelakaan ini, tidak bisa sepenuhnya menyalahan anak. Sulitnya menjadi anak korban perceraian tidak hanya dirasakan oleh “dul” saja namun banyak anak-anak didunia. Sudah banyak penelitian yang menyebutkan dampak gangguan psikologi pada anak akibat perceraian, seperti halnya apa yang dialami anak ahmad dani dan maia estianty ini.

Dalam beberapa penelitian yang dilakukan oleh American Sosiological Review mengenai dampak perceraian didapati beberapa dampak nyata gangguan psikologi yang dialami oleh anak dari keluarga broken home diantaranya sebagai berikut:

- Timbul rasa kesedihan, kesepian, kecemasan.

- Perasaan bersalah (mereka berpikir, karena (anak) kedua orang tua menjadi sering berantem dan bercerai)

- Bertindak agresif dan diluar kendali (perilaku merokok, kebut-kebutan, mabuk, narkoba)

- Dewasa lebih dini, ketika kurangnya perhatian dan kasih sayang selayaknya anak-anak membuat mereka ditempa dan dipaksa menjadi dewasa lebih dini.

- Terlalu bebas karena minimnya pengawasan dan edukasi dari orang tua.

Itulah beberapa dampak negatif perceraian orang tua bagi perkembangan anak. Seperti yang dialami oleh “dul” secara tidak langsung saya menilai juga merupakan imbas dari perceraian kedua orang tua mereka. Walau kelihatannya mereka tampak bahagia dilayar kaca, namun sebagai pemerhati psikologi anak saya yakin ada kegundahan dan kegalauan dihati “Dul” sebagai anak dari korban perceraian orang tua.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Hasil SPP2013: Nasib Petani Tanaman Pangan …

Kadir Ruslan | | 24 July 2014 | 05:48

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 19 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: