Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Rekayasa Kuis Kebangsaan di RCTI

OPINI | 11 December 2013 | 05:03 Dibaca: 10407   Komentar: 64   29

1386712546466981404

ADA-ada saja cara pasangan capres mengampanyekan dirinya. Jika Gita Wirjawan asyik beriklan di dunia maya bahkan dengan tiba-tiba masuk ke inbox email saya, maka pasangan Wiranto - Harry Tanoe (WIN-HT) menggunakan pendekatan melalui media televisi. Maklumlah HT adalah bos dari stasiun swasta RCTI.

Salah satu pendekatan yang mereka gunakan adalah membuat tayangan kuis bernama Kuis Kebangsaan. Kuis ini ditayangkan di RCTI dua bulan lalu dan ditayangkan pula setiap hari yakni setiap jam 10 pagi dan jam 5 sore.

foto: merdeka.com

Bagaimana cara mainnya? Gampang saja, masyarakat televisi bisa menghubungi Kuis Kebangsaan (KK), kemudian jika beruntung akan tersambung. Penelepon wajib mengucapkan password yakni bersih, peduli, dan tegas. Kemudian presenter memberikan lima opsi pertanyaan dimana penelepon harus memilih salah satu. Opsi itu berinisial WINHT. Taruhlah seseorang memilih W dan kemudian yang bersangkutan akan mendapatkan pertanyaan dari  tamu undangan, yakni narasumber untuk membantu mengampanyekan WIN - HT yang wajib ada di setiap episodenya. Setiap penelepon yang menjawab benar akan mendapatkan aneka hadiah seperti dispenser dan kamera.

Tapi ada yang aneh dalam salah satu tayangan KK. Videonya sendiri beredari di youtube. Mengingat channel Kuis Kebangsaan secara official memang ada di youtube dengan durasi sekitar 3 - lima menit. Namun beredarnya video ‘Kuis Kebangsaan Terbukti Setting-an’ membuat kita terbelalak. Sampai-sampai hal ini menjadi kehebohan tersendiri di dunia FB dan twitter!

Jawaban Sudah Diketahui Sebelum Pertanyaan Diajukan

Seorang penelepon bernama Syaifudin mengaku dari Jawa Timur. Sang presenter cantik, Tifanny (mantan finalis Indonesian Idol) itu mempersilakan Pak Syaifudin memilih salah satu huruf dari lima huruf di layar kaca.  Setelah beberapa detik dipersilakan dan tak ada respons, penelepon yang kelihatannya kebingungan ini ujug-ujug mengatakan “Iya, Istana Maimun!”

Jelas sang presenter kaget dan menjelaskan aturan mainnya. Setelah dijelaskan penelepon itu memilih huruf H. Pertanyaan kemudian dibacakan oleh narasumber. Pertanyaan itu adalah: ” Istana yang menjadi salah satu ikon Kota Medan dan dibangun pada tahun 1888 adalah …” Dan dengan opsi jawaban yakni:  A. Istana Maimun B. Gedung Sate C. Museum Gajah.

Syaifudin pun menjawab “A Istana Maimun!”

Hal ini membuat penonton geli sekaligus merasa miris. Bagaimana seseorang bisa mengetahui jawaban sebelum pertanyaan dilontarkan. Ini kan serba aneh. Jangan-jangan Bapak Syaifudin ini orang suruhan dari pihak program televisi, namun karena kurang menerima penjelasan aturan main saat “briefing”, dia langsung tangkas menjawab pertanyaan. Atau bisa jadi dia adalah seorang cenayang atau peramal! Sehingga ia bisa mengetahui jawaban dari pertanyaan yang belum disebutkan. :D

lihat videonya di sini: http://www.youtube.com/watch?v=lVW7zTNRr9A Video officialnya sendiri diblok namun video cuplikan “insiden” ini sudah banyak di-upload akun youtube yang lain!

Bagaimana Tanggapan Wiranto?

Dari kaskus dan detik forum, ternyata insiden penelepon yang sudah tahu jawabannya ini pernah ada sebelumnya. Yakni saat presenter Lolita Agustine mendapatkan seorang penelepon yang tiba-tiba menjawab jawaban benar yakni “A! MT HARYONO!” Padahal Lolita belum menyebutkan pertanyaannya.

Wiranto pun dimintai keterangan, dikutip slidegossip.com pada 10/12 di Hotel Bidakara, Jakarta, dia mengakui adanya setting-an itu.  “Semuanya disetting, saya kemari disetting. Tapi setting yang tidak melanggar undang-undang, diizinkan. Jangan hanya like-dislike, sesuatu yang baik disalahkan, itu mendidik bukan menjerumuskan. Kami bertanya kepada rakyat tentang pelajaran budaya, sejarah, dan hal-hal yang positif. Kita galakkan dengan cara itu, jangan dicurigai kemudian sebagai akal-akalan. Kami tulus melakukan itu karena kami merasa semangat kebangsaan sudah luntur, apa salahnya kami beri upaya mendidik dengan cara-cara menarik.”

Adanya Simulasi Peserta Kuis

Akun @kuiskebangsaan pun ikut bicara. Mereka memberikan tweet-tweet panjang lebar bahwa acara mereka bukan setting-an. Intinya ada simulasi atau latihan bagi penelepon yang tela masuk. Hal ini untuk menjaga durasi dan menghindari penelepon yang pernah mengikuti kuis yang sama. Artinya kalau ada penelepon yang langsung menjawab saat show dimulai, semata karena penelepon tersebut kurang memahami aturan main. Jadi karena terkena sindrom euforia, dia langsung menjawab!

Wow, baru tahu saya. Saya pikir segalanya serba spontan! Ternyata penelepon yang masuk mengalami “gladiresik” dulu :D. Entah memang demikian adanya atau memang hanya ‘pembelaan’. Tapi saya jadi ingat saat salah satu stasiun TV swasta dituduh merekayasa acara reality show yang bagi penontonnya adalah sebuah investigasi yang benar. Pihak mereka berkata bahwa apa yang terjadi di televisi hanyalah reka ulang. YAP! REKA ULANG! Ini memberi kesan kalau pihak mereka katakanlah turut andil dalam menolong KLIEN. Misalnya si A ikutan acara anu agar ketemu dengan orangtuanya yang telah lama hilang, maka pihak TV yang bersangkutan pun menolong dan itu berhasil! Tapi mereka memilih untuk tidak menayangkan petolongan itu, mereka memilih untuk membuat versi REKA ULANGNYA!

Entahlah, yang jelas saya dan sebagan orang sangat malas ikutan kuis interaktif via telepon tersebut. Dan mengetahui konfirmasi pihak mereka, betapa ribetnya seseorang yang hendak ikutan kuis. Masuk line telepon saja susah, ditambah pakai briefing segala dari pihak acara. Saya pikir semuanya serba spontan karena pastinya penonton TV SUDAH TAHU ATURAN MAINNYA.  Wah, kalau pasangan yang menciptakan kuis ini tidak spontan dan tidak suportif, gimana nanti jika terpilih dan memimpin negara? Jangan-jangan ada setting-an yang lain nanti? Kidding ah!

13867129751500960648
*

Baca juga:

Deddy Corbuzier Lepas Kendali di Hitam Putih


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: