Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

‘Mata Najwa’ Sukses Mainkan Emosi Megawati

HL | 23 January 2014 | 11:55 Dibaca: 9221   Komentar: 126   63

13904518861818407256

Tawa renyah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sewaktu menjadi bintang tamu pada talkshow Mata Najwa, Metro TV. (Foto: Mata Najwa, Metro TV)

… Selamat malam / Selamat datang di ‘Mata Najwa’ / Saya Najwa Shihab / Tuan rumah ‘Mata Najwa’ … // Perempuan berdiri di panggung politik / Dilatih waktu dan kuasa penuh intrik / Anak proklamator utama / Dan seorang ibu yang belum lama menjanda / Memasuki politik penuh sengaja / Pernah dihujani penguasa bahaya dan celaka / Pribadi yang biasa menahan rasa / Kelam sejarah yang kalah dan amarah / Dalam diam dia memagari partainya / Bersabar menentang partai penguasa / Di penghujung suksesi kepemimpinan / Keputusannya sangat menentukan / Inilah Mata Najwa / “Apa Kata Mega” //

Pemirsa, di awal tahun politik ini, semua menanti keputusan dan instruksi dari seorang Megawati, putri Sang Proklamator yang berhati teguh, dan tak mudah terpengaruh. Kita sambut, Megawati Soekarnoputri … !!!

Tepuk tangan penonton di studio pun membahana, mengiringi langkah Megawati Soekarnoputri menuju atas panggung talkshow, di mana sang interviewer Najwa Shihab sudah berdiri menanti Ketua Umum PDI Perjuangan itu. Terdengar pula bahagian terakhir dari lagu My Way yang dipopulerkan pada 1969 oleh Frank Sinatra:

… For what is a man, what has he got? / If not himself, then he has naught / To say the things he truly feels / And not the words of one who kneels / The record shows I took the blows / And did it my way …

* * *

1390451713855027497

Najwa Shihab, tuan rumah talkshow Mata Najwa, sukses membuat Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tertawa, menangis, tersipu, tertegun, sedih dan semburat emosi lainnya. (Foto: Acara Mata Najwa, Metro TV)

Begitulah sesi pembuka talkshow ‘Mata Najwa’ di stasiun televisi MetroTV, edisi Rabu malam, 22 Januari 2014, yang mengangkat judul ‘Apa Kata Mega’, dan menghadirkan narasumber tunggal, yaitu mantan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Seperti biasa, Najwa Shihab selalu mengawali talkshow-nya dengan sebuah tuturan kalimat pembuka, yang berlanggam puisi. Pembukaan talkshow yang seperti demikian, menjadi ciri khas ‘Mata Najwa’, sekaligus membedakannya dengan banyak acara sejenis di channel televisi lain. Inilah, point pertama kelebihan Najwa Shihab secara profesionalitas, di mana ia mampu membuka talkshow dengan gaya tuturnya sendiri yang cenderung berpuisi. Apa yang menjadi trademark Najwa dalam melakukan opening talkshow-nya ini, sebenarnya merupakan ‘jembatan’ (bridging) yang baik, untuk menyampaikan kepada pemirsa, hubungan antara topik yang menjadi pembahasan, seraya memperkenalkan sosok bintang tamunya.

Lantas apa lagi kehandalan Najwa Shihab yang dipertontonkan kepada pemirsa saat mewawancarai Megawati?

Kedua, Najwa amat paham bahwa, tidak semua bintang tamunya akan langsung ‘nyetel’ dengan talkshow ‘Mata Najwa’ sesaat setelah berhadapan dengan si empunya mata cantik ini di atas pentas. Di sinilah, Najwa pantas diberi pujian berikutnya karena ia adalah interviewer sekaligus host talkshow yang cerdas, lantaran selalu mengajukan pertanyaan awal yang ringan, dan diupayakan untuk sanggup memecah kebekuan (ice breaking) atas kekurang-nyamanan posisi sang narasumber, atau pun mungkin malah demam panggungnya Najwa sendiri.

Ketika mewawancarai Megawati, semalam, Najwa mengajukan pertanyaan ringan demi ice breaking yang ditujukan untuk mengusir rasa rikuh, gugup, dan mencairkan suasana. Begini pertanyaannya: “Ibu Mega, terima kasih sekali lagi sudah bersedia hadir di ‘Mata Najwa’. Sehat-sehat Ibu? (Mega jawab: Alhamdulillah. Agak flu saja). Agak flu sedikit tapi tetap cerah sepertinya terlihatnya. (Jawab Mega: Terima kasih) Selalu cerah.

Ice breaking yang dilakukan Najwa berlanjut, dengan pembahasan lagu My Way. Rupanya, tim kerja ‘Mata Najwa’ sudah mengetahui informasi bahwa, ternyata Megawati menggemari lagu yang dipopulerkan Frank Sinatra itu. Bisa dibayangkan, seorang tokoh politik sekaliber Megawati, diajukan pertanyaan perihal lagu My Way. Inilah sebuah pertanyaan berikut yang tetap ringan, dan membuat Megawati terlihat semakin nyaman dalam posisinya sebagai narasumber dalam talkshow. Sementara bagi Najwa, dengan membuat Megawati nyaman, artinya terbangun pula sebuah keakraban dengan narasumber secara obyektif dan profesional. Ini yang dilontarkan Najwa dalam ice breaking lanjutan tersebut: “Tadi ‘tuh sengaja kita putarkan lagu My Way. Karena saya tahu rahasianya, Bu Mega suka sekali dengan lagu My Way. Betul Ibu suka sekali ‘kan?”

Larry Kinghost ternama stasiun televisi CNN, dalam bukunya Seni Berbicara (1994) menandaskan, untuk memecah kebekuan dengan narasumber yang baru pertama kali diajak berbicara, caranya adalah dengan membuat mereka nyaman. Misalnya, dengan menanyakan sesuatu tentang diri mereka sendiri. Dengan begitu, interviewer akan mempunyai bahan untuk dibicarakan, sekaligus, narasumber akan menganggap interviewer adalah host, atau pewawancara yang menyenangkan. Dalam talkshow-nya, putri ahli tafsir Al Qur’an, Quraish Shihab ini berhasil membuktikan hal tersebut. Meski demikian, patut diingat, ice breaking jangan terlalu panjang durasinya. Khawatir, pemirsa malah beranggapan talkshow-nya kebanyakan ber-say hello yang condong basa-basi. Padahal, bukan itu yang ingin disaksikan khalayak.

1390452007325160931

Megawati Soekarnoputri sempat tertegun sedih pada acara Mata Najwa, Rabu malam, 22 Januari 2014. (Foto: Mata Najwa, Metro TV)

Ketiga, Najwa menyatakan sebuah kejujuran bahwa selama ini, sebagai host talkshow, dirinya sudah lama berharap dapat menghadirkan Megawati sebagai bintang tamu. Kejujuran ini membuat posisi Najwa juga ikut merasa nyaman, tak terbebani, apalagi demam panggung. Meskipun, kegugupan Najwa sewaktu mewawancarai Megawati, tetap terlihat.

Ia, yang sudah cukup banyak punya ‘jam terbang’ mewawancarai bintang tamu, tetap tidak bisa menyembunyikan sikap gugup plus takjub, sehingga beberapa kali—pada awal-awal talkshow—, Najwa malah melontarkan pertanyaan dengan sedikit gagap. Misalnya, sewaktu ia bertanya soal banyak diamnya Megawati:Eh, Ibu, eh, a.., ada juga yang menilai. Saya ini, sudah.., sudah lama ingin mewawancara Bu Mega, tapi memang baru mendapat kesempatannya sekarang. Karenanya ini banyak sekali pertanyaan-pertanyaan saya, khusus untuk sosok seorang Megawati. Ada yang menilai Megawati itu pendiam. Seringkali lebih banyak diamnya, ketika orang malah ramai berbicara. Itu memang kesengajaan, atau karena memang merasa tidak patut banyak bicara, karena ‘toh yang lain sudah ‘berisik’?”

Kejujuran Najwa, yang mengaku secara apa adanya bahwa, ia sudah lama ingin mewawancarai Megawati, membuatnya sedikit melepaskan ‘beban’ seorang host. ‘Beban’ yang dimaksud adalah, ketakjuban dan keterpukauan yang berlebihan terhadap narasumber. Sehingga, fokusnya untuk bertanya secara kritis, tajam, obyektif, dapat saja luluh oleh keterpesonaan Najwa kepada sosok Megawati. Beruntung, Najwa bisa segera mengembalikan posisinya, sebagai host juga interviewer, yang mewakili pemirsa maupun khalayak, bukan malah menjadikan talkshow-nya semata sebagai ajang show dirinya sendiri, atau pun ego pribadi.

Keempat, tak hanya dalam penampilannya saat mewawancarai Megawati saja, Najwa selalu menunjukkan mata yang menatap wajah narasumbernya, kontak mata, berikut mimik wajah dan tangan yang sesekali menjadi penyangga dagunya yang ‘lancip nanggung’. Mendengarkan apa yang dikatakan narasumber, adalah merupakan hukum pertama dari sebuah percakapan. Ini pula yang ditegaskan Larry King, untuk menjadi pembicara (atau pewawancara) yang baik, harus pula menjadi pendengar yang baik. Alasannya, hal ini lebih dari sekadar menunjukkan rasa tertarik pada narasumber yang menjadi bintang tamu.

13904521351101043411

Megawati Soekarnoputri sempat emosionil dan menangis pada acara talkshow Mata Najwa, Metro TV. (Foto: Mata Najwa, Metro TV)

Tak hanya menunjukkan mimik wajah yang menyimak, bahkan Najwa pun melakukan lebih dari itu. Seringkali, terlihat di layar televisi, posisi duduk Najwa menyorong ke depan, seolah bergerak mendekati narasumber. Bahasa tubuh (body language) ini jelas disukai narasumber, karena semakin memperlihatkan antusiasme alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) saat melakukan wawancara, menyimak jawaban narasumber, dan lebih dari itu, makin menambah erat, menyenangkan serta ‘hangat’ atmosfir talkshow-nya.

Bahasa tubuh, menurut Mark L Knapp dalam bukunya Nonverbal Communication in Human Interaction, memiliki lima fungsi: repetisi (mengulang kembali gagasan, misalnya seseorang yang melonjak-lonjak kegirangan saat lulus ujian), substitusi (menggantikan lambang verbal, contohnya, seseorang yang menggeleng sebagai pertanda sebuah penolakan, atau ketidaksetujuan), kontradiksi (menolak sebuah pesan verbal dengan memberikan makna lain menggunakan pesan non-verbal, misalnya, menyatakan bersedia mendekat tapi kemudian malah lari menjauh), pelengkap (melengkapi atau memperkaya pesan non-verbal, semisal menunjukkan raut wajah yang sedih tanpa perlu bicara sepatah kata pun), dan,aksentuasi (menegaskan pesan non-verbal, seperti kondisi kesal yang diungkapkan dengan memukul meja). Dalam konteks Najwa sebagai host, banyak hal ditunjukkan Nana—sapaan akrabnya—melalui body language, dan keseringan ia menerapkannya sebagai fungsi substitusi juga pelengkap.

Kelima, karena memang selalu mendengarkan penuturan narasumber secara seksama, posisi Najwa sebagai pewawancara pun selalu dalam keadaan siap, misalnya, untuk segera mengajukan pertanyaan lanjutan berdasarkan jawaban yang diluncurkan narasumber. Pertanyaan lanjutan yang masih berkaitan dan diajukan untuk lebih mendalami jawaban narasumber ini sering disebut sebagai pertanyaan balon, karena dapat beberapa kali didalami melalui pertanyaan lanjutan (bukan pertanyaan yang hanya diulang).

Selalu dalam keadaan siap, juga membuat Najwa pandai memberi penegasan (ulang) terhadap beberapa hal yang disampaikan oleh Megawati. Misalnya, seperti cuplikan wawancara berikut ini:

* * *

Megawati: Banyak orang mengatakan, ketika saya kehilangan almarhum (suaminya Taufik Kiemas, red), “Oh, Ibu Mega ‘kok tabah sekali ya?” Tidak seperti, kalau katakan, sinetron begitu ‘kan? Sebentar-sebentar nangis, apa saja teriak-teriak, nangis. Ya, saya bilang ‘kan, karena ekspresi itu ‘kan tidak harus di depan umum. Jadi ‘kan apapun juga bapak, ibu saya selalu mengatakan, katakan, ketika saya sudah mulai diberi tugas oleh ayah saya untuk mendampingi beliau. Bayangkan, waktu itu kami harus menjemput salah seorang tamu dari luar negeri, padahal saya pada waktu itu, penuh dengan ujian, ulangan, dan karena kebetulan, saya juga menjadi Ketua Tim Volley di sekolah. Jadi ‘kan repot di sekolah.

Najwa: Oh, Ibu jago main volley ya dulu?

Megawati: Ya, katakanlah begitu. (Tepuk tangan pemirsa di studio) Jadi kan dengan kesal saya. Bayangkan, sejak umur 13 tahun, kalau menerima tamu, kami itu diharuskan berpakaian nasional. Kalau sekarang anak-anak muda enak ya, berpakaian cozy saja, santai, dan asal sederhana, atau baik. Dulu tidak begitu. Karena sifatnya resmi, kami harus berpakaian nasional, saya sudah bayangkan ‘kan panasnya kayak apa ya? Umur segitu, pakai konde-lah, pakai pakaian nasional …

* * *

13904522311272602072

Salah satu mimik wajah bahagia yang ditampakkan Megawati Soekarnoputri pada talkshow Mata Najwa, Metro TV. (Foto: Mata Najwa, Metro TV)

Keenam, Najwa cukup jeli untuk membatasi komentar, terkait jawaban dari Megawati. Apalagi, gaya bicara Megawati yang speed-nya lambat, sebenarnya sangat tidak cocok untuk sebuah tayangan talkshow—baik TV maupun radio—, yang punya durasi waktu terbatas. Belum lagi, Megawati yang keibuan, beberapa kali justru nampak memberikan jawaban atas pertanyaan Najwa, dalam bentuk bercerita yang detil dan ‘memakan waktu lama’. Saya yakin, dengan langgam tutur kata Megawati yang seperti itu, membuat Najwa dan tim kerja ‘Mata Najwa’ pasti cukup kesulitan dalam melakukan editing atas tayangan yang dibuat berdurasi ‘hanya’ 90 menit, dipotong Headline News dan iklan-iklan yang lumayan banyak jumlahnya.

Membatasi komentar dan tidak terlalu banyak—juga tidak terlalu kencang—mengeluarkan suara sela, seperti “he’eh”, “iya, ya”, “oohhh”, “ya ya ya”, adalah juga merupakan kelebihan dari talkshow ‘Mata Najwa’. Sebagai interviewer dan host, jurnalis terbaik Metro TV tahun 2006 ini paham benar bahwa, suara sela yang ia lontarkan ketika narasumber sedang berbicara, dapat mengganggu kenikmatan pemirsa dan penonton sewaktu menyimak talkshow-nya.

Kelemahan Najwa Shihab

Hanya saja, sekali waktu, Najwa sempat ditegur juga oleh Megawati, karena dianggap mengajukan pertanyaan baru, padahal Megawati belum menuntaskan lanjutan jawabannya tentang ‘misteri hubungan’ antara Megawati dengan Soesilo Bambang Yudhoyono. Sampai-sampai, Megawati dengan tegas dan spontan setengah berseru kepada Najwa: “Ya, Mbak dengar dulu dong”. Najwa pun hanya bisa cengengesan, sembari menjawab: “Penasaran, Bu”.

Lantas apa kelemahan ‘Mata Najwa’ edisi ‘Apa Kata Mega’ dengan bintang tamu, Megawati Soekarnoputri, tadi malam? Jujur, sulit untuk menemukan kekurangan atas talkshow­-nya Najwa, yang lahir di Makassar, 16 September 1977 ini. Maklum, meski sedikit canggung, gugup, gagap dan berlebihan dalam memendam keterpesonaan terhadap Megawati, Nana juga mampu membuat Megawati banyak berceritamemancing humor dengan memperolok Jokowi dengan sebutan Gubernur Kurusmembuka rahasia masa kecilnyamenyimpan rahasia calon presiden partainyatertawaterkejut,tersipusedih, sampai-sampai emosi Megawati tumpah dan menangis, terutama ketika ditanyakan perihal, apa isi suara hati ibunda dari politisi PDI Perjuangan, Puan Maharani, untuk masa sekarang ini. Pendek kata, ‘Mata Najwa’ berhasil memainkan emosi Megawati Soekarnoputri. Sehingga sampai kapan pun, setiap pemirsa tayangan ini, pasti tidak akan pernah lupa, menyaksikan tangis Megawati yang pecah, tawa Megawati yang renyah, dan raut wajah sedih Megawati Soekarnoputri yang tepat pada Kamis, 23 Januari ini, merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-67(Happy Birthday ya, Bu Mega. Merdekaaaa….!!!!)

1390452443168738327

Tayangan Mata Najwa di Metro TV pada Rabu, 22 Januari 2014 dengan narasumber Megawati Soekarnoputri. (Foto: Mata Najwa, Metro TV)

Karena baru semalam ‘Mata Najwa’ episode ini ditayangkan oleh Metro TV, dan esok harinya Megawati merayakan hari jadinya, maka boleh jadi, ini point pertama, yang menjadi kekurangan Najwa beserta tim ‘Mata Najwa’, karena tidak menyinggung sedikit pun, masalah ulang tahun Megawati. Padahal, bisa menjadi satu bahasan yang cukup menarik, bilamana mengaitkan antara usia Megawati yang sudah tidak muda lagi, tapi masih ada kader partainya, yang tetap menghendaki agar Megawati menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan. Tapi, bisa dipahami kalau hal ini bukan menjadi concern dari tim ‘Mata Najwa’. Maklum, tayangan semalam hanya rekaman yang sudah di-edit, alias, tidak dilangsungkan secara live.

Kedua, kekurangan Najwa lainnya adalah, ia beberapa kali mengawali kalimat pertanyaannya dengan beberapa kalimat yang sebenarnya justru banyak dilakukan oleh para interviewer untuk tayangan infotainment. Yakni, dengan menyebutkan, misalnya: “Banyak orang yang bilang … bla, bla, bla”, atau, “Ada yang bilang kalau … bla, bla, bla”. Padahal, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “Orang yang bilang itu?”. Sangat absurd dan tidak jelas.

Misalnya, pertanyaan Najwa yang berikut ini: “Karena Ibu suka lagu My Way, kemudian BANYAK ORANG YANG ANALISANYA macam-macam, Bu. Jadi analisanya itu karena Megawati ‘kan terkenal teguh, kemudian kukuh. Ketika mengambil keputusan, akan betul-betul memegang pada keputusan itu. Karenanya, makanya sukanya lagu My Way, karena ada liriknya yang seperti itu. ADA JUGA YANG BILANG, itu karena Ibu Mega itu ‘kan terkenal keras kepala, jadi makanya suka lagu My Way, betul Bu?

Atau, pertanyaan lain yang seperti ini: “ADA YANG BILANG, Megawati itu pendiam Seringkali lebih banyak diamnya, ketika orang malah ramai berbicara … bla bla bla.

Memang, ini adalah sebuah bentuk pertanyaan dengan tujuan untuk meminta konfirmasi. Tapi rasanya, kalau sering-sering ‘Mata Najwa’ mengajukan model pertanyaan seperti ini, agak riskan karena bakal tak ada bedanya dengan salah satu ciri khas jurnalisme infotainment yang biasa mengajukan pertanyaan dengan model seperti itu. Misalnya: “Ada yang bilang Ayu Ting Ting sudah melahirkan anak perempuan? Apakah kamu tahu, dimana persalinan itu, dan kenapa harus secara sembunyi-sembunyi seperti itu?”

Ketiga, entah kenapa, Najwa juga beberapa kali mengawali pertanyaannya dengan kalimat pernyataan yang sebenarnya kurang perlu. Misalnya: “Ibu, SAYA INGIN BERTANYA, MUNGKIN SESUATU YANG SENSITIF, TAPI IZINKAN SAYA BERTANYA, karena sampai sekarang belum ada pernyataan, ataupun ungkapan apapun dari Ibu, pasca berpulangnya Pak Taufik Kiemas. SAYA BOLEH TAHU, bagaimana, apa yang terberat dari kehilangan dari suami yang selama ini mendampingi?”

Dengan mengatakan ‘Izinkan saya bertanya’, rasanya posisi Najwa sebagai interviewer sudah terlalu seperti layaknya ‘anak buah’, ataupun ‘ajudan’ dari Megawati. Padahal, tugas Najwa sebagai host dalam talkshow-nya adalah memang bertanya, dan bertanya. Nana itu mewakili khalayak dalam mengajukan pertanyaan, jadi tidak perlu harus mengucapkan minta izin terlebih dahulu kepada narasumber—dalam hal ini Megawati—, sebelum melontarkan pertanyaan.

13904526811327670893

Najwa Shihab, pewawancara yang masih suka mengajukan pertanyaan, ya dan tidak, dalam talkshow Mata Najwa. (Foto: Mata Najwa, Metro TV)

Atau, contoh pertanyaan ‘lucu dan manja’ Najwa lainnya, seperti ini: “Ibu, BOLEH SAYA NAKAL SEDIKIT ya Bu, pernah tidak sih Bu, bertanya begitu kepada Pak Jokowi?” Kiranya, sebagai interviewer tak perlu sampai mengkategorikan pertanyaannya sendiri sebagai bentuk pertanyaan yang ‘nakal atau tidak’, dan, ‘sensitif atau tidak’. Akan lebih tepat, kalau sebutan interviewer yang ‘nakal’ itu justru disampaikan oleh pemirsa/penonton kepada Najwa. Kembali, tugas Najwa adalah bertanya, dan bertanya mewakili publik. Kalaupun gayanya gemar menyelipkan pertanyaan ‘nakal’, maka itu adalah salah satu kelebihan Najwa yang memang kritis, tapi ingat, ada baiknya Najwa tak perlu menandaskan bahwa dirinya ‘nakal sedikit’, atau yang semacamnya kepada narasumber.

Terkait masalah ini, penting juga untuk membaca kembali tulisan TedjomurtiBertanya Mewakili Audience, dalam buku “Mencuri Kejernihan dari Kerancuan” (Gramedia, 1999) bersama Wimar Witoelar. Tedjomurti menegaskan kunci sukses Wimar dalam talkshow TV acara Perspektif Baru. Katanya, yang membuat acaranya segera menarik penggemar fanatik adalah kemampuannya ‘mewakili’ masyarakat luas, baik dalam soal akal sehat maupun moral sosial. Dalam setiap kesempatan—dan sembari berhadapan dengan tamunya—Wimar seolah-olah memunguti daftar pertanyaan, perasaan, dan nurani masyarakat, lalu mengartikulasikannya secara cerdas.

Keempat, kekurangan lain dari Najwa pada episode ‘Apa Kata Mega’ ini adalah, sesuatu yang sebenarnya sudah dipahami Najwa sebagai interviewer tapi nyatanya tidak diterapkan. Yakni, mengajukan bentuk pertanyaan yang seharusnya dihindari untuk dilontarkan, yaitu bentuk pertanyaan “ya dan tidak”, atau, “betul dan tidak”. Contohnya saja adalah pertanyaan Najwa berikut ini:

* * *

Najwa: Kalau dibilang keras kepala. Betul enggak Megawati itu keras kepala?

Megawati: Rasanya ‘kok enggak keras ya.

* * *

Larry King menekankan pertanyaan ‘YA/TIDAK’ ini sebagai urutan pertama yang harus dihindari oleh interviewer. Pertanyaan ‘ya/tidak’ adalah musuh percakapan yang hangat. Dari sifatnya, mereka menghasilkan jawaban yang hanya berupa satu atau dua kata. Terbukti, di atas, jawaban Megawati pun hanya singkat saja.

Tapi, terlepas dari itu semua, rasanya banyak yang setuju, kalau ‘Mata Najwa’ adalah talkshow yang tetap selalu dinanti-nantikan jam tayangnya.

Tetap semangat, Nana!

o o o O o o o

Bagi Kompasianer yang tidak sempat menyaksikan ‘Mata Najwa’ episode, Rabu, 22 Januari 2014 bertajuk ‘Apa Kata Mega’ dengan bintang tamu Megawati Soekarnoputri, silakan click link berikut ini: [http://www.youtube.com/watch?v=jQi_yUlx-Kw]

- Semua foto, saya jepret di layar televisi di rumah saya, saat talkshow ‘Mata Najwa’ ditayangkan Metro TV, pada Rabu malam, 22 Januari 2014.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 7 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 8 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 10 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 11 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: