Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Pical Gadi

Kepala Bidang Pemberdayaan Credit Union Mekar Kasih Makassar| Phlegmatis-Damai| Sedang memperjuangan Pendidikan Financial Literacy untuk selengkapnya

Megawati Curhat di Mata Najwa

REP | 23 January 2014 | 12:56 Dibaca: 2290   Komentar: 40   28

Program Mata Najwa tadi malam (22/1) jadi menarik karena tamu Najwa Shihab kali ini adalah Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri. Megawati nampak anggun dengan sanggulannya yang khas,   dress merah maroon yang dibalut selendang batik berwarna senada dengan dress-nya. Di barisan audiens nampak beberapa public figur yang dekat dengan Megawati seperti Jokowi, Sabam Sirait, Rano Karno dan sejumlah tokoh PDI-P lain.

Seperti biasa, Najwa Shihab memainkan peranannya dengan baik sebagai host. Tanya jawab dengan Megawati menghasilkan percakapan yang mengalir alami. Najwa juga berhasil membangun suasana yang hangat, sehingga seringkali sisi humoris seorang Megawati keluar dalam bentuk jawaban-jawaban spontan yang memancing tawa penonton. Sejumlah topik pun dibicarakan mulai dari topik ringan sampai topik aktual yang sedang mendapat sorotan masyarakat akhir-akhir ini.

Di awal-awal talkshow Najwa mencairkan “mental block” Megawati dengan pertanyaan-pertanyaan ringan menyangkut kehidupan sehari-hari seorang Megawati. Biasanya strategi ini berhasil karena pada umumnya orang lebih terbuka bila berbicara mengenai dunia kesehariannya. Begitu pula saat Najwa bertanya mengenai peran mendiang Taufik Kiemas (TK) dalam kehidupannya. Mega mengatakan kalau dia dan TK sering main boxing, TK itu teman sparring yang baik. Sontak jawaban Megawati disambut riuh oleh penonton.

Bu Mega juga ternyata suka iseng. Saat menjabat sebagai Presiden, dia bercerita pernah menyuruh  ajudannya mencari letak mata air sungai ciliwung. Mega menyuruh bertanya pada pejabat-pejabat eselon saja tak perlu sampak ke Menteri, karena memang motivasi awalnya cuman iseng saja. Eh, tahu-tahu beberapa hari kemudian dia mendapat telepon dari Menteri Kimpraswil untuk berdiskusi masalah air. Bu Mega pada awalnya tidak ngeh, karena dia juga sudah lupa keisengan pada ajudannya itu. Setelah mereka bertemu pada santap siang hari itu juga baru ketahuan ternyata keisengan menanyakan mata air sungai ciliwung itu berbuntut panjang sampai Menteri pun turun tangan. Mega berkata itulah gambaran orang Indonesia, yang remeh-remeh pun suka dibesar-besarkan sampai semua orang heboh.

Setelah talkshow berjalan sekitar 15 menitan, sentilan-sentilan Najwa pun mulai mengarah ke topik politik. Diawali dengan mengulik apa motivasi Mega pertama kali terjun ke dunia politik. Pada sesi itu, Sabam Sirait diminta ikut bercerita karena beliau juga cukup punya peran di awal karir politik Megawati. Pak Sabam sebagai sepuh di PDI (saat itu belum bernama PDI-P) mengatakan saat pertama diajak ikut ke partai Mega tak mau. Tapi dengan pendekatan terus menerus, mungkin dengan sedikit paksaan,  pak Sabam pada akhirnya berhasil meyakinkan Mega untuk menyalurkan perjuangannya bagi Indonesia melalui PDI.

Mega menjadi trenyuh saat Najwa membongkar kembali memorinya mengenai peristiwa 27 Juli 1996, saat sejumlah massa mengobrak-abrik kantor PDI di Jalan Diponegoro Jakarta. Intonasi Mega lebih berat saat menceritakan pandangannya mengenai peristiwa itu yang dianggapnya sebagai wujud perlakuan tak adil dari rezim penguasa saat itu. Mega juga menceritakan kronologis pemanggilannya ke “gedung bundar” lalu di sana dia dicecar pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan selama 12 jam.  Namun Mega kembali membuat suasana cair saat bercerita mengenai julukan “Naga Merah” dan “Naga Hijau” yang dialamatkan kepadanya dan mendiang Gus Dur saat itu. Mega baru mengetahui julukan itu saat diintrogasi. Julukan itu pernah jadi bahan obrolan ringannya dengan Gus Dur. “Mas, sampeyan tahu gak naga merah naga hijau?” tanya Mega. Gus Dur dengan sikap cueknya balik bertanya “Opo iku?” Mega pun menjelaskan. Tapi jawaban Gus Dur masih nyeleneh, ya di Indonesia mana ada naga sih? Penonton kembali tertawa riuh.

Secara khusus Mega juga menyoroti generasi muda yang menurut kacamatanya mulai mengalami “erosi kebangsaan”. Anak muda tahunya ada proklamasi, ada kemerdekaan, tapi sudah mulai kurang memiliki dan menghayati semangat para pejuang mewujudkan proklamasi tersebut.

Saat acara sudah berlangsung setengah jalan, mulailah Najwa mengeluarkan “tembakan-tembakan maut”-nya. Dimulai dengan menanyakan bagaimana peristiwa pencalonan SBY sebagai Presiden yang saat itu masih menduduki kursi di Kabinet Gotong-Royong. Mega pun kembali bermimik serius lalu bercerita kronologis yang sebenarnya, mulai dari surat dari KPU yang dilayangkan kepada sekretariat negara untuk memintanya mengkonfirmasi siapa-siapa saja orang di kabinetnya yang akan nyapres, sampai kronologis saat beliau mengadakan rapat dengan menteri-menteri yang “dianggap” mau ikutan nyapres, termasuk Yusril dan Hamzah Haz yang saat itu juga menjabat ketua umum partai.  Menurut beliau kronologis rapat tersebut suka dipelintir oleh media. Seringkali media menulis bahwa Mega bertanya langsung kepada SBY. Padahal versi Mega, dia baru menanyai beberapa orang menteri lain sebelum SBY dan saat dia ingin ke toilet, dia mendelegasikan jalannya rapat ke Hamzah Haz. Begitu Mega kembali dari Toilet, pak Hamzah sudah kelar menanyai semua peserta rapat.

Saya yakin semua penonton pasti semakin betah duduk di depan TV, saat Najwa mulai menyebut nama Jokowi. Najwa menanyakan bagaimana pendapat Megawati mengenai kinerja Jokowi. Mega yang sering memanggil Jokowi dengan julukan “gubernur kurus” itu cukup memberi apresiasi. Lalu menyikapi segelintir orang yang seringkali menghujat kinerja gubernur DKI itu, Mega berkata tidak ada pemimpin yang langsung nampak prima dalam lima tahun. Apalagi menangani Jakarta yang jadi simbol dari Republik ini. Butuh kerja yang luar biasa.

Tapi Mega terkesan “malu-malu” saat Najwa menyentil apakah Jokowi akan dicalonkan jadi Presiden dari PDI-P. Tidak puas, Najwa ikut mengajak Jokowi berbincang. Sebagai pertanyaan pancingan, Najwa bertanya bagaimana pandangan Megawati di mata seorang Jokowi. Dengan mantap Jokowi menjawab kalau ibu Mega itu orang yang bekerja detail dan teguh memegang prinsip. Lalu pertanyaan berikut yang lebih dalam, Najwa bertanya kalau jalan sama bu Mega apa saja sih yang diobrolkan? Jokowi menampilkan nyengir khasnya, membuat penonton ikut tertawa, tapi tertawa penasaran. Dengan gaya lugunya Jokowi pun menjawab tergantung jalannya ke arah mana dulu, kalau misalnya saat ke waduk pluit, ya mereka berbicara tentang masalah lingkungan atau jenis-jenis pohon. Kalau pergi makan seafood, pasti bicara masalah udang atau kepiting. Jawaban kocak sih, tapi penonton pasti rada kecewa karena bukan itu jawaban yang diharapkan.

Akhirnya Najwa kembali ke tokoh utamanya dan memberikan pertanyaan pamungkas, Megawati mau ikutan capres atau tidak. Mega pun terkekeh kecil, mungkin dia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. “Itu rahasia saya,” sahutnya. Mega pun menganalogikan jawaban pertanyaan itu seperti sebuah amplop surat yang ditutup rapi dan diberi label “confidential”. Artinya siapa capres dari PDI-P sampai malam tadi masih merupakan sebuah tabir misteri. Seorang Najwa pun belum bisa menyibaknya.

Diakhir program, sambil berlinang air mata, Mega mengatakan dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia bercita-cita melihat “Indonesia Raya.” (nanti arti air matanya bisa lihat artikel mbak Ilyani)

Sekali lagi, Program Mata Najwa kali ini menarik. Cara Najwa mengemas program dan mengawal perbincangan, membuat saya yang awam politik dapat mengikuti alur talkshow dengan baik. Topik-topik berat pun jadi terdengar ringan dibuatnya.

Kelihatannya Najwa pun tidak “segarang” saat berbincang dengan Farhat Abas, Rhoma Irama atau Angel Lelga. Apa karena perasaan saya saja, atau memang pengaruh kapasitas narasumbernya. (PG)

**********

Youtube Mata Najwa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Latahnya Pedagang Kaki Lima …

Agung Han | | 17 September 2014 | 04:16

Polemik Kabinet Jokowi-JK …

Mike Reyssent | | 17 September 2014 | 05:05

Potret-Potret Geliat TKW HK Memang …

Seneng Utami | | 17 September 2014 | 06:07

Pro-Kontra Pembubaran (Sebagian) Kementerian …

Hendi Setiawan | | 17 September 2014 | 08:17

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 12 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 14 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 16 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 16 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jokowi Bermain Kata-kata …

Hasan Ali | 8 jam lalu

Sanggupkah Timnas Lolos dari Hadangan …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Istilah Luar Negeri …

Rizky Purwantoro | 8 jam lalu

Maudy Ayunda ‘Dimodusin’ Bule! …

Darren Wennars | 8 jam lalu

Kutinggalkan Cintaku Terkapar di Tuktuk (7) …

Leonardo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: