Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Giri Lumakto

My roles (so far): A Lecturer. A Father. A Husband. A Lover. A Friend. tweet: selengkapnya

Menguak Tabir Lagu Penutup Acara Mata Najwa

OPINI | 08 February 2014 | 21:56 Dibaca: 9714   Komentar: 26   20

(photo: solopos.com)

(photo: solopos.com)

Siapa sih yang tidak tahu acara Mata Najwa di salah satu stasiun televisi berita terkenal di Indonesia. Sebagai acara yang ditunggu dan dinanti setiap minggu, acar Mata Najwa memiliki aura telisik yang frontal namun sopan, kritis namun phlegmatis. Host cantik mempesona Mata Najwa, Najwa Shihab pun yang selalu investigatif dan cerdas menguliti tamu yang kontroversial atau menggelorakan inspirasi dari para tamu fenomenal, menjadi pelengkap sempurna acara Mata Najwa ini.

Dan penonton pasti tidak akan beranjak atau mengganti channel TV sebelum mendengar puisi berima indah dan kritis di akhir acara Mata Najwa. Seperti menggambarkan keseluruhan isi acara dan simpulan yang cukup cerdas dirangkai ke dalam puisi yang indah dan cerdas. Bait demi bait serupa tajamnya kritik yang terlontar saat acara. Ataupun bait demi bait yang menggugah hati atas imaji sang inspirator yang hadir diwawancarai.

Refleksi Lirik Lagu

Lalu, teriring akhir puisi Najwa Shihab, melodi gitar dari band Rock, Creed dengan judul One Last Breath mengalun. Sedikit, saya telaah kenapa harus lagu One Last Breath dari Creed.

Menilik sedikit, Creed atau dalam bahasa Indonesia Keyakinan, sendiri adalah band beraliran post-grunge yang mengusung faham Christianity dalam liriknya. Lagu-lagu yang tercipta sendiri merupakan pengaruh ayah angkat Scot Stapp yang merupakan seorang minister di gereja Pantecostal. Dan salah satu lagu yang menurut saya cukup religius adalah One Last Breath ini.

Pada awal lagu ini, liriknya bercerita tentang sebuah keputuasaan. Sebuah alienasi dan keterpurukan. Sebuah gaya bercerita, dimana sisi manusia sendiri sebenarnya membutuhkan Tuhan disisinya. Semua kebenaran dan ideologi yan ada dan dianggap benar di dunia ini, hanya semakin menyesatkan. Dan ia pun berdoa.

Please come now I think I’m falling
I’m holding on to all I think is safe
It seems I found the road to nowhere
And I’m trying to escape

Kemudian, pada lirik berikutnya ada sebuah keinginan untuk bisa merasa bebas dari derita. Keinginan untuk segera terlepas dari belenggu dunia. Namun, yang terjadi semua kebenaran dan ideologi di dunia ini hanya menciptakan kegamangan fikir. Ingin berteriak, namun apa daya.

I yelled back when I heard thunder
But I’m down to one last breath
And with it let me say

Dan, pada akhirnya semua keterpurukan harus selalu teriring doa dan keyakinan pada Tuhan. Bahwa Tuhan akan selalu bersamanya. Selalu mendampingi saat semua orang dan kebenaran dunia semakin menjauh. Dan saat memandang jauh ke dalam lembah nadir kenistaan, selalu ada doa yang selalu diyakini bahwa Tuhan akan selalu bersama.

Hold me now
I’m six feet from the edge and I’m thinking
That maybe six feet
Ain’t so far down

(lyric: lyricfreak.com)

(ilustrasi: popyactually.blogspot.com)

(ilustrasi: popyactually.blogspot.com)

Refleksi Kekinian

Dan, inti dari rangkaian serta jalinan acara Mata Najwa adalah membuka mata dan pemahaman kita semua. Serupa ikon dari acara Mata Najwa sendiri yang bergambar mata, acara ini mencoba membuka mata untuk kemudian kita berfikir dan merefleksi. Berfikir tentang negara dan figur publik yang kian terpuruk dan buram. Sekaligus merefleksikan, bahwa ada setitik harapan untuk negara dan figur yang menggugah hati.

Jika dikaitkan dengan ending song, Creed - One Last Breath ini, sejatinya Najwa Shihab ingin kita berfikir dan terus berharap. Berfikir bahwa dalam segala keterpurukan bangsa, kita harus selalu yakin. Yakin bahwa ada harapan dan perbaikan di masa yang akan datang. Dalam kiasan six feet on the edge ada harapan bahwa maybe six feet ain’t so far down. Bahwa dalam gelapnya pandangan kita terhadap negara dan pemerintahan ini, selalu ada figur yang mengggugah.

Buramnya masa depan Indonesia, tidaklah seburam yang dilihat. Saat semua berharap dan segera bangkit dan sadar, Indonesia bisa maju dan menjadi baik.

Yang seperti kita rasakan bersama saat ini, diman gonjang-ganjing polhankam, sosbud, dan pendidikan menerawangkan Indonesia memasuki masa terpuruk. Belum para amtenar negara yang kian minim ruh kepemimpinannya. Kian sesat dan menjerumuskan saat kita taati. Menggambarkan seakan Indonesia berada pada titik getir hidup berbangsa dan bernegara.

Dan, acara Mata Najwa ini, sejatinya ingin membuka mata, hati dan fikir kita untuk terus yakin dan berharap. Saat semua orang dan kebenaran duniawi tidak bisa dipercaya lagi. Akan ada dan datang mukjizat doa yang terjawantahkan pada tokoh-tokoh negara kita sendiri. Tokoh-tokoh yang menginspirasi dan menjadi harapan bersama.

Salut pada Najwa Shihab di Mata Najwa.

Salam,

Solo, 08 Februari 2014

09:22 pm

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 9 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 10 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 8 jam lalu

Rinni Wulandari Lebih Melesat… …

Raynadi Salam | 9 jam lalu

Kecardasan Tradisional …

Ihya Ulumuddin | 9 jam lalu

Sebaik-baiknya Tahun adalah Seluruhnya …

Ryan Andin | 10 jam lalu

Tak Sering Disorot Kamera Media, Kerja Nyata …

Topik Irawan | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: